Untitled Document
  Minggu , 26 September 2021 Login
Bank Transfer Konfrimasi Transfer Download
home profil berita Layanan Produk Layanan Jasa Informasi Pasar Komunitas Galery Tentang Kami
Berita > Detail Berita
   
Untitled Document
BERITA
LITBANG
PUBLIKASI
DATA PELABUHAN
LOWONGAN KERJA
 

 

 
BERITA RUMPUT LAUT
 
Pandemi di Bali, Pekerja Swasta Beralih jadi Petani Rumput Laut
 
Senin, 24 May 2021 - Sumber: https://www.nusabali.com/ - Terbaca 183 x - Baca: Sep 26 2021    
 
Lebih setahun dihantam pandemi, para pekerja sektor pariwisata ataupun sektor terdampak lainnya di Bali mengalami kesulitan ekonomi.

Alih pekerjaan agar bisa terus mendapatkan nafkah pun dilakoni. Seperti yang terjadi di Pulau Serangan Denpasar Selatan. Kini eks pekerja pariwisata rame-rame menekuni profesi barunya sebagai petani rumput laut.

“Jumlah petai rumput laut di Serangan sebanyak 70 orang, dan sekitar 50 orang di antaranya adalah mereka yang dulunya adalah karyawan swasta,” kata Kepala Lingkungan Banjar Dukuh Serangan, I Made Miasa, Jumat (21/5/2021).

“Masing-masing dari mereka punya areal rumput laut yang berbeda-beda. Ada yang punya dua petak dengan luas sekian are, ada yang tiga petak dan sebagainya,” sambung I Made Miasa.
Luasan lahan yang menjadi tempat budidaya rumput laut di kawasan Serangan sendiri mencapai 2 hektare. “Sejak tahun 2000an di Serangan sudah mulai membudidayakan rumput laut. Total petani rumput laut di sini ada 70 orang,” ungkap

Dalam membudidayakan rumput laut, menurutnya tidak membutuhkan waktu yang lama namun tidak juga singkat. “Sebenarnya kalau cuaca mendukung dan air yang bagus, ya dalam sebulan itu bisa panen rata-rata bisa sampai 100 kilogram. Kalau cuaca kurang bagus bisa sampai 1,5 bulan baru bisa dipanen,” ungkapnya.

Made Miasa mengatakan bahwa dalam membudidayakan rumput laut ini mendapat banyak kendala saat musim hujan. Beberapa rumput laut yang ditanam sempat mengalami kerusakan bentuk akibat diserang hama laut dan hujan yang terus turun yang mengakibatkan kualitas rumput laut menjadi menurun. “Waktu bulan Februari-Maret itu kami sempat mengalami masalah karena waktu itu Bali sedang hujan terus. Itu banyak yang rusak karena air hujan dan kesusahan juga menjemur rumput laut yang semestinya sudah bisa dipanen. Kalau masalah hama laut itu bisa diakali dengan mengganti tali yang dipakai sebelumnya dengan tali baru agar lebih bersih dan rumput laut bisa menyerap nutrisi di air laut dengan lebih baik,” ucap Kepala Lingkungan berusia 39 tahun tersebut.

“Kalau mau buat areal untuk menanam rumput laut ini, bisa buat sendiri, boleh juga bayar orang untuk minta bantuan dibuatkan, ada juga yang beli areal milik org lain karena dia mengambil alih,” jelas Miasa.

Masyarakat Pulau Serangan sendiri lebih tahan banting terhadap kondisi perekonomian Pulau Dewata yang dihantam pandemi Covid-19.

Bagi mereka yang menggeluti sektor rumput laut misalnya, tidak terpengaruh dengan ada tidaknya wisatawan ke Pulau Dewata. “Zaman dulu kami punya orangtua yang kurang mampu, jadi sejak kecil memang sudah bekerja sebagai petani rumput laut,” ucap Nyoman Santun, salah satu petani rumput laut saat ditemui Kamis (20/5/2021).

Karena keadaan, maka masyarakat mengoptimalkan pemanfaatan wilayah Serangan yang memiliki kekayaan laut. “Kami tidak mampu juga untuk menempuh pendidikan, makanya satu-satunya pekerjaan yang bisa dijalani sejak saat itu sebagai petani ini,” tambah Nyoman Santun.

Meskipun di tengah pandemi, Nyoman Santun mengaku tidak begitu terpengaruh pada penghasilan karena tidak terlalu mengalami penurunan namun juga tidak begitu naik. “Biasanya ada pengepul yang membawa rumput laut ke Pasar Kumbasari dan Pasar Sanglah untuk dijual,” ucapnya.

Rumput laut ini biasanya dijadikan olahan makanan seperti sayur. “Seberapa banyaknya rumput laut yang dipanen juga tergantung cuaca dan gelombang air. Kalau cuaca sedang tidak bagus dan gelombang besar, ya susah kita carinya,” imbuhnya.

Sebelum sektor pariwisata menjadi primadona di Bali, masyarakat Serangan memang sudah menekuni pekerjaan yang berhubungan dengan laut seperti menjadi petani rumput laut ataupun nelayan penangkap ikan. Saat ini di tengah situasi pariwisata yang lesu, beberapa orang yang sebelumnya melakoni pekerjaan di dunia pariwisata, mulai menekuni budidaya rumput laut.

Sebagai petani rumput laut yang memang sudah dijalani puluhan tahun, Nyoman Santun mengatakan bahwa penghasilan yang didapatkan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan makan.

“Tapi untuk mulai usaha ini, modalnya lumayan untuk membeli jukung, mesin, benih itu kira-kira butuh modal sampai Rp 25 jutaan,” ucap perempuan berusia 46 tahun tersebut.

Di kawasan Serangan, rumput laut yang paling banyak dibudidayakan adalah jenis rumput laut kotoni dan agar-agar. “Benihnya masih bisa diperoleh di Bali. Tapi kalau rumput laut liar setiap hari bisa dicari tergantung pasang surut air, setelah dapat ya dibersihkan dulu dan bisa langsung dijual,” katanya.

Berbeda dengan rumput laut hijau yang siap dijual, sebaliknya rumput laut putih memerlukan proses selama lima hari baru bisa dijual. Nyoman Santun menyebutkan bahwa penjualan dari rumput laut tersebut biasa dibanderol dengan harga Rp 15.000 per kilogramnya.

Selain sektor budi daya rumput laut, desa Serangan juga memiliki sektor andalan lainnya seperti nelayan jaring. “Kami cuma punya laut, mayoritas pendapatannya dari laut. Bahkan banyak yang datang ke sini sampai malam untuk mencari ikan atau sekadar mencari umpan untuk memancing. Pasti ada saja yang mereka dapat dan dibawa pulang. Walaupun kami punya banyak penghasilan laut, yang paling ada prospeknya sebenarnya rumput laut ini,” ujarnya.

Sementara itu menyikapi kembali bergairahnya budidaya rumput laut, Made Miasa berharap agar sektor ini bisa mendapatkan perhatian lebih baik dari pemerintah. “Masyarakat juga harus menyadari akan prospek yang dimiliki dari sektor tersebut,” tuntasnya.
 
 
 
 
 
More Berita
 
Indonesia Berpotensi Tingkatkan Nilai Tambah Rumput Laut
  Selasa, 21 Sep 2021-https://m.republika.co.id/ - Terbaca 18 x
Indonesia Berupaya Tingkatkan Produktivitas Pengolahan Rumput Laut
  Senin, 06 Sep 2021-https://www.aa.com.tr/ - Terbaca 91 x
Menperin Dorong Industri Pengolahan Rumput Laut Masuk Daftar Prioritas Investasi
  Senin, 30 Aug 2021-https://m.tribunnews.com/ - Terbaca 77 x
Kepala BI Kepri lepas ekspor perdana rumput laut ke China
  Senin, 23 Aug 2021-https://m.antaranews.com/ - Terbaca 89 x
Serahkan Bantuan Sarana Budidaya Rumput Laut, Bupati Suwirta Akan Gandeng Koperasi Untuk Jaga Harga
  Senin, 16 Aug 2021-https://balitribune.co.id/ - Terbaca 94 x
Jangan Remehkan Kontribusi Rumput Laut RI untuk Dunia
  Selasa, 03 Aug 2021-https://m.antaranews.com/ - Terbaca 110 x
Rumput Laut Bisa Atasi Persoalan Limbah Plastik
  Senin, 02 Aug 2021-https://m.republika.co.id/ - Terbaca 104 x
Produksi Rumput Laut Bisa Bantu Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
  Selasa, 20 Jul 2021-https://m.antaranews.com/ - Terbaca 141 x
Produksi Rumput Laut Sulsel Capai 935,8 Ton di Kuartal I-2021
  Senin, 05 Jul 2021-https://m.medcom.id/ - Terbaca 143 x
Indonesia Berpotensi Kuasai Pasar Rumput Laut Dunia
  Senin, 21 Jun 2021-https://amp.wartaekonomi.co.id/ - Terbaca 161 x
 
 
     
 
Untitled Document
 
 
 
 
 
Layanan Produk
 
Cara Pemesanan
Trade Data
China Study
Buku Eucheuma
Modul Pelatih
Modul Petani
Modul GMP
Peta GIS
Monograph
Buku Member
 
Layanan Jasa
 
Mitra Utama
Mitra Pelatihan
Konsultasi Online
Promosi - Buku Tamu
Pengembangan Website
Pasang Iklan
 
Team
 
Dr. Iain C. Neish
Irsyadi Siradjuddin
Boedi Julianto
Dina Saragih
Dedi Kurniadi
 
Alamat Kantor
JaSuDa Team
POSKO UKM JaSuDa
Jl Politeknik 14 Pintu Nol Unhas, Tamalanrea Indah, Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
 
Statistik Website
Kunjungan 535,569  Kali
Jumlah Anggota 10,333 Org
Buku Tamu / Promosi 813  lihat
Konsultasi Online 2762  lihat
 
             
 
 
PT. JARINGAN SUMBER DAYA (JaSuDa.nET)
All Rights Reserved. Created 2005, Revised 2014. Supported by Ford Foundation.
Developed by Irsyadi Siradjuddin (MWN)