
Penggunaan energi sehari-hari terus meningkat akan tetapi persediaan energi terutama dari bahan bakar minyak (BBM) semakin menipis.
Sesuai amanat UU No 30 Tahun 2007, Tentang Energi, Pemerintah wajib menyediakan energi terbaru dan terbarukan sebagai bagian dari diversifikasi energi dan juga merupakan tanggungjawab semua pihak.
Pemerintah telah meluncurkan program menggunakan bahan baku nabati sebagai bahan baku BBN (Bahan Bakar Nabati) terbarukan seperti pemanfaatannya dengan minyak jarak, minyak sawit, ubi kayu dan berbagai biji-bijian.
Namun terdapat kendala di lapangan karena lahan yang digunakan juga sebagai lahan budidaya tanaman pangan yang juga tetap harus menjadi prioritas utama sehingga menyebabkan kompetisi diantara keduanya.
Solusi yang muncul atas masalah terakhir ini digunakanlah lahan marginal sebagai tempat pembudidayaan bahan baku BBN. Namun efisiensi penggunaan lahan ini belum ada data yang jelas. Salah satu pemanfaatan yang dapat digunakan sebagai bahan energi baru dan terbarukan sumber bahan baku BBN ialah rumput laut.
Rumput laut sebagai bahan baku energi alternatif dapat dibuat menjadi bioetanol karena tidak mengurangi lahan pertanian pangan dan luas wilayah negara indonesia yang 2/3-nya berupa lautan tentunya bisa menjadi pertimbangan utama.
Bioetanol merupakan produk fermentasi yang dapat dibuat dari substrat yang mengandung karbohidrat (gula, pati, atau selulosa). Etanol disebut juga etil alkohol bersifat polar dengan rumus kimianya adalah C2H5OH, mudah menguap, tidak berwarna, jernih, memiliki bau yang sangat halus dan rasa yang pedas.
Proses pembuatan bioetanol dari rumput laut adalah persiapan bahan baku, yang berupa proses hidrolisa pati menjadi glukosa. Tahap kedua berupa proses fermentasi, merubah glukosa menjadi etanol dan CO2. Tahap terakhir yaitu pemurnian hasil dengan cara distilasi. Destilasi dilakukan untuk memisahkan air dengan etanol.
Penelitian dilaksanakan di Desa Lontar yang merupakan salah satu daerah pesisir yang berada di Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang yang memiliki banyak potensi sumberdaya hayati yang cukup baik antara lain budidya rumput laut yang dapat dijadikan sebagai bahan baku bioetanol.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai inovasi energi baru dan terbarukan serta penerapan bagi masyarakat pesisir dalam pembuatan bioetanol dengan bahan baku rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii dan Gracilaria sp. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.