
"""SEBAGAI salah satu negara dengan wilayah pantai terpanjang dan terluas di dunia, Indonesia bisa memanfaatkan berbagai sumber daya pesisir yang ada. Walau mungkin istilah """"pertanian pantai"""" di luar wilayah pasang surut belum populer, sebenarnya sejak beberapa tahun terakhir banyak kawasan sudah mengembangkan pertanian pantai ini berupa budidaya rumput laut.
RUMPUT laut-kadang juga disebut ganggang laut- tumbuh di wilayah pantai. Ada yang berwarna hijau, kemerahan, kecoklatan, biru kehijauan, dan sebagainya. Namun, yang nilai ekonominya tinggi untuk industri hanyalah ganggang coklat dan merah. Memang ada yang berwarna hijau seperti """"ganggang usus ayam"""" (Enteromorpha), makanan utama nener bandeng, atau """"sebelah laut"""" (Ulva) yang merupakan sayuran laut terkenal mahal harganya, namun keduanya masih kalah dengan rumput laut berwarna coklat dan merah.
Rumput laut merah dan coklat memang merupakan salah satu bahan baku yang sangat potensial dan luas penggunaannya. Agar-agar dari rumput laut digunakan pada makanan (kue-kue), pengental sup, pengental es-krim sampai ke bahan untuk membuat media/substrat di laboratorium. Hasil rumput laut berguna juga kapsul, salep, tablet, filer, plester, serta pengental lainnya.
Bahan ini dikenal sangat luas sejak lama, terutama dalam bentuk batangan persegi empat. Sekarang sudah banyak beredar agar-agar berbentuk tepung yang lebih murni kalau dibandingkan dengan bentuk batangan. Agar-agar misalnya, merupakan hasil ekstraksi rumput laut jenis Gelidium.
Bahkan, pupuk organik yang terbuat dari rumput laut yang tidak diolah jadi bahan kimia, merupakan pupuk yang sangat baik. Karena di dalam rumput laut terkandung bukan saja makro-mineral (N, O, K, S, dan sebagainya) tetapi juga mikro-mineral (Fe, Mg, Na, dan sebagainya). Karena itu, rumput laut sangat populer untuk pertanian sayuran, buah-buahan, dan bunga di RRC, Jepang, Inggris, Perancis, dan Kanada.
RUMPUT laut Indonesia mempunyai harga sangat tinggi di pasaran dunia, bukan karena kandungan kimia di dalamnya memenuhi persyaratan (seperti agar-agar, karagen, dan sebagainya) tetapi juga karena wilayah perairan pantai tempat ganggang laut tersebut tumbuh rata-rata belum tercemar berat, baik yang datang dari pencemar domestik (rumah-tangga) ataupun pencemar non-domestik (dari pabrik, industri, dan sebagainya).
Saat ini hanya dari kandungan air raksa (Hg) yang disyarat-utamakan oleh konsumen di Eropa, Amerika, dan Jepang (sebagai negara pengguna produk rumput laut terbesar di dunia), sehingga rumput laut asal Indonesia rata-rata masih memenuhi persyaratan itu.
Permintaan luar negeri terhadap rumput laut Indonesia setiap tahun terus meningkat, khususnya untuk jenis-jenis Laminaria, Gelidiella, Gracillaria, dan Euchema. Tapi, karena pengadaan rumput laut sebagian besar masih tergantung kepada alam, sedang pengadaan melalui budidaya masih terbatas, maka banyak dari permintaan tersebut belum terpenuhi.
Padahal, harga rumput laut Indonesia cukup tinggi kalau dibandingkan dengan hasil dari negara lain. Misalnya, untuk jenis Euchema spinosum kering yang telah diputihkan harganya 325-350 dollar AS per ton FOB, sedang yang berwarna hitam (asli) antara 250-270 dollar AS per ton FOB di Hongkong. Tetapi, untuk jenis Euchema cottoni (lebih halus) lebih tinggi harganya, yaitu antara 325-350 dollar AS per ton FOB.
Masyarakat Jepang merupakan negara """"pemakan"""" ganggang laut, bahkan juga yang tanpa diolah lebih dahulu. Jenis makanan seperti aonori (dari jenis Enteromorpha), makombu (dari jenis Laminaria), wakame (dari jenis Undaria), kawanori (dari jenis Prasiola), dan sebagainya terbuat dari rumput/ganggang laut secara langsung tanpa diolah. Rumput laut amat berperan dalam menu makan tradisional Jepang, karena seperti makombu yang berwarna keunguan, selalu muncul untuk sayur maupun pembungkus makanan dan nasi.
Secara kimia, rumput laut terdiri dari air (27,8%), protein (5,4%), karbohidrat (33,3%), lemak (8,60%), serta serat kasar (3,0%), dan abu (22,25%). Sedang melalui pengolahan, rumput laut akan menghasilkan bahan-bahan di bawah ini.
1. Algin, baik dalam bentuk asam alginik ataupun dalam bentuk alginat. Pada umumnya senyawa ini dihasilkan dari jenis Macrocystis, Ecklonia, Fucus, Lesonia, dan Sargassum, dengan produksi rata-rata per tahun 6.000-7.500 ton, terutama di Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Norwegia, dengan negara konsumen mulai dari Jerman, Jepang, Australia, Kanada, Perancis, Belanda, Spanyol, dan sebagainya.
2. Agar-agar, yang merupakan senyawa asam-belerang dan ester dari galaktan-linier. Jenis ganggang yang menghasilkan agar-agar antara-lain Gelidium, Gracilaria, Ahnfeltia, dan sebagainya. Di perairan Indonesia paling banyak dari jenis Gelidium dan Gracilaria.
3. Karagenin, umumnya dalam bentuk garam karena bereaksi dengan unsur-unsur Na, Ca, dan K. Secara kimia, karagenin terbagi menjadi fraksi-fraksi kappa-karagenin dan iotakaragenin. Jenis ganggang yang menghasilkannya antara lain Chondrus, Gigartina, dan Euchema, dengan manfaat dan penggunaan sama seperti agar-agar dan algin.
Di samping bahan utama yang sudah disebut di atas, rumput laut dapat menghasilkan bahan lain yang umum dinamakan eucheman (dari Euchema), funoran (dari Gloiopeltis, Ahnfeltia, dan sebagainya), nori (dari Phorphyra), kombu (dari Laminaria), fukoidin (dari Fucus, Laminaria, Macrocystis, Ascophylum, dan sebagainya) serta fukosterol (dari jenis yang sama dengan fukodin).
Selain hasil olahan rumput laut yang banyak digunakan di bidang industri, secara langsung rumput laut juga digunakan sebagai makanan ternak. Di Irlandia, pakan ternak penghasil daging dan susu menggunakan Rhodymenia, jenis yang secara ekonomi tidak menghasilkan bahan industri. Dibandingkan dengan rumput laut hijauan lainnya, rumput laut mempunyai kandungan nutrien dan gizi lebih sebagai pakan ternak.
SECARA tradisional, penduduk memanen rumput laut di kawasan pantai berkarang dengan berlari ke tengah laut saat laut surut. Dengan cepat mereka memilih, mengambil dan kemudian mengumpulkannya. Begitu air laut pasang, mereka lari ke darat menggenggam hasilnya.
Setiap hari bertruk-truk mengangkut rumput laut kering ke beberapa pabrik agar-agar di Jakarta dan Surabaya. Pemandangan seperti di atas merupakan hal yang umum ditemukan sekitar Pameungpeuk (Garut), Surade (Sukabumi) ataupun pantai berkarang lainnya penghasil rumput laut.
Pantai berkarang yang berair jernih banyak didapatkan di kawasan Indonesia, merupakan tempat sangat baik dan subur untuk pertumbuhan rumput laut. Menurut catatan Puslitbang Oseanografi/LIPI, hampir di seluruh kawasan Indonesia potensial untuk membudidayakan rumput laut ini.
Agar lebih optimal, sejak tahun 1960-an Puslitbang Oseanografi/LIPI maupun Lembaga Penelitian Perikanan Laut/Departemen Pertanian serta pembudidayaan rumput laut telah mengembangkan upaya penanaman rumput laut.
Di kawasan kepulauan Seribu di Teluk Jakarta misalnya, budidaya berlangsung sekitar Pulau Tikus, Pari. Demikian juga di Pulau Samaringa (Sulawesi Tengah), Bali, dan beberapa tempat lainnya. Pembudidayaan rumput laut telah banyak dilakukan.
Di beberapa daerah bahkan sudah terdapat petani rumput laut berpotensi tinggi seperti di Bali. Sekitar Klungkung ada petani rumput laut yang pada kegiatan awalnya hanya mengusahakan lahan seluas 100 m persegi saja. Tetapi dengan semakin meningkatnya hasil dan pendapatannya, ia meluaskan areal tanamnya jadi 2 ha, dengan keuntungan rata-rata per bulan lebih dari Rp 10 juta.
Pengalaman Tarsin, nama petani di Bali itu, menunjukkan bahwa di samping punya kemauan, semangat, dan modal, seseorang juga harus memiliki latar belakang pengetahuan dan keterampilan untuk membudidayakan rumput laut.
Menurut Puslitbang Oseanografi/LIPI, sedikitnya ada 57 jenis rumput laut bernilai ekonomi di Indonesia, yaitu 16 jenis yang termasuk ganggang hijau, 9 jenis ganggang coklat, dan 25 jenis ganggang merah. Dari ke-57 jenis tersebut 10 jenis benar-benar sudah teruji nilainya.
Prospek ekspor rumput laut Indonesia menurut catatan BPEN (Badan Pengembangan Ekspor Nasional) sangat menggembirakan kalau dilihat dari peningkatannya setiap tahun. Misal kalau jumlah ekspor 1975 baru mencapai 1.602.348 kg, 1987 menjadi 9.881.982 kg lebih, dan tahun-tahun berikutnya terus meningkat.
Prof H Unus Suriawiria Dosen senior ITB, pemerhati bioteknologi dan agroindustri.
www.kompas.com/kompas-cetak/0305/28/inspirasi/324824.htm """