
Meski potensi rumput laut di Indonesia mencapai 1,2 juta hektar atau terbesar di dunia, tetapi yang tergarap baru sekitar 10 persen. Kenyataan itu merupakan dampak dari pengabaian terhadap usaha budidaya selama 30-an tahun terakhir. Untuk itu, perlu didorong percepatan usaha budidaya rumput laut sebab kebutuhan dunia terus meningkat.
Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Made L Nurdjana, Selasa (26/7) di Jakarta, mengatakan, telah meminta sejumlah pemerintah provinsi menyiapkan lokasi pembibitan rumput laut. Bibit yang diproduksi nantinya diberikan kepada masyarakat untuk membudidayakan. Dengan demikian, krisis bibit rumput laut berkualitas dapat teratasi.
Menurut dia, budidaya rumput laut tergolong usaha yang rendah modal dan rendah teknologi. Proses produksi pun tidak rumit dan dalam tempo berkisar 40-45 hari komoditas tersebut sudah dipanen. Harga di tingkat petani Rp 3.500-Rp 4.000 per kilogram.
Jadi, kalau budidaya rumput laut dilakukan dengan baik, saya yakin dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan menekan kemiskinan. Jadi, masyarakat pesisir perlu segera didorong membudidayakan rumput laut, kata Made Nurdjana.
David Soetarto, peminat rumput laut, menilai, masyarakat di sebagian besar daerah pesisir mulai sadar tingginya manfaat ekonomis rumput laut. Akan tetapi, belum didukung penyediaan sumber daya manusia, bibit unggul, dan pemasaran yang baik.
DKP bersama pemerintah daerah perlu memfasilitasi proses produksi dan pemasaran. Termasuk mendorong kerja sama pemasaran dan pengolahan produk dengan melibatkan pengusaha lokal dan nasional, ujar David.
Kebutuhan meningkat Berdasarkan data Departemen Kelautan dan Perikanan, potensi budidaya rumput laut sedikitnya mencapai 1,2 juta hektar dan tersebar di 15 provinsi. Potensi terbanyak di Papua seluas 501.000 hektar, lalu Maluku 206.000 hektar, Sulawesi Tengah 106.000 hektar, Nanggroe Aceh Darussalam 104.000 hektar, dan Provinsi Sulawesi Tenggara seluas 83.000 hektar.
Jumlah potensi itu belum lengkap karena yang didata hanya potensi di kawasan terlindung dan daerah teluk, sedangkan tempat yang berombak besar dikesampingkan. Padahal, hasil uji coba di beberapa tempat, daerah berombak mampu menghasilkan rumput laut berkualitas tinggi. Potensi produksi rumput laut kering dalam setiap hektar 16 ton per tahun. Harga di pasar dunia Rp 4,5 juta per ton. Jika separuh potensi itu tergarap, menghasilkan 9,6 juta ton per tahun. Total devisa yang diperoleh sekitar Rp 40 triliun.
Kebutuhan rumput laut di pasar dunia cenderung meningkat setiap tahun. Untuk tahun 2005, kurang lebih 260.571.050 ton, 273.599.602 ton (2006), 287.279.582 ton (2007), dan tahun 2009 meningkat mencapai 316.725.339 ton.
Rumput laut bisa diolah menjadi 30 jenis produk ikutan. Misalnya, obat-obatan, makanan bayi, dan pasta gigi.
Oleh: Jannes Eudes Wawa
www.kompas.com/kompas-cetak/0507/27/ekonomi/1926945.htm