
JAKARTA – Berpenampilan menarik, tampan, dan cantik merupakan gaya hidup masyarakat di seluruh belahan dunia saat ini. Berbagai cara ditempuh oleh mereka yang hendak mendapatkan penampilan menarik sesuai dengan keinginannya.
Salah satu caranya adalah dengan menggunakan kosmetik. Tak heran, di zaman milenial ini banyak orang berusaha untuk mencari kosmetik yang dianggap paling bagus guna meningkatkan daya tarik.
Ternyata, pemenuhan gaya hidup menggunakan kosmetik berbahan baku rumput laut sudah sejak lama digunakan oleh manusia. Dalam jurnal yang berjudul "Potensi Rumput Laut Sebagai Bahan Dasar Kosmetikal" yang ditulis oleh Puji Rahmadi, Ratih Pangestuti, dan Gazali Salim disebutkan, penggunaan kosmetik sebagai penambah daya tarik diri telah terjadi sejak 10.000 SM.
Pemakaian kosmetik ini terjadi di Mesir, Afrika Utara. Kala itu, masyarakat Mesir Kuno telah menggunakan minyak wangi dan losion untuk membersihkan, melembutkan kulit bahkan untuk menghilangkan bau badan. Begitu juga di China, di tahun itu, masyarakat China menggunakan kosmetik mewarnai alir mata.
Hanya saja kemudian disadari bahwa penggunaan kosmetik dalam kurun waktu yang panjang ternyata bisa menimbulkan risiko bagi kesehatan. Itu sebabnya para ilmuan mulai mengembangkan kosmetik yang aman dan natural untuk merawat tubuh manusia.
Ilmuan mencoba mengembangkan kosmetik menggunakan hewan maupun tumbuhan laut. Alasannya, kekayaan alam laut merupakan sumber produk alami dan senyawa bioaktif. Mereka berpendapat senyawa bioaktif dapat digunakan untuk berbagai fungsi salah satunya adalah sebagai bahan pengembangan kosmetik.
Akan tetapi, banyak pihak yang menentang penggunaan hewan laut untuk menggunakannya. Alasannya, ekologi. Oleh karena itu, tumbuhan laut, salah satunya rumput laut memiliki peluang besar untuk diandalkan dalam pengembangan kosmetik ini.
Pada jurnal yang sama disebutkan sesungguhnya penggunaan rumput laut sebagai bahan kosmetik telah ada sejak dahulu kala. Sayang, saat itu, pengembangannya masih sangat minim.
Komponen rumput laut yang telah popular adalah phycocolloids. Di dalamnya terdapat karagenan, aligan dan agar-agar yang biasa digunakan dalam dunia kosmetik sebagai pengental, pembentuk gel, pengemulsi dan sejumlah kegunaan lainnya.
Itu sebabnya, rumput laut menjadi bahan utama dalam memproduksi alat kosmetik. Misalnya, sabun, sampo, krim, bedak, pewangi dan lainnya. Lebih lanjut lagi banyak produk kosmetik yang diproduksi dengan menggunakan bahan dari rumput laut diklaim mempunyai fungsi kosmeseutikal (istilah untuk produk kosmetik yang mengandung zat aktif yang bertindak sebagai obat) dan bermanfaat bagi kesehatan.
Pengembangan
Direktur PT Jaringan Sumber Daya Boedi S Julianto menuturkan, pihaknya tengah mengembangkan industri kosmetik menggunakan rumput laut. Makanya, PT Jaringan Sumber Daya tengah melakukan pengembangan pemanfaatan rumput laut untuk olahan kosmetik salah satunya lulur dan masker.
“Selain itu, kami juga masih mengembangkan, untuk farmasi, makanan dan produk lainnya,” kata Boedi.
Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Aziz mengatakan, untuk meningkatkan daya tambah komoditas ini, pemerintah perlu mengembangkan rumput laut menjadi produk olahan. Di antaranya, kosmetik dan farmasi.
Menurut Aziz, formulasi produk lain dalam rumput laut khususnya karagenan dan agar adalah sebagai aditif atau penambah. Sebab, rumput laut mengandung hidrokolid.
“Hidrokolit adalah polimer laut yang digunakan dalam banyak makanan formulasi untuk meningkatkan kualitas atribut dan umur simpan. Aziz menjelaskan, hidrokolid dapat digunakan sebagai pengental dan pembentuk gel,” kata Aziz.
Produk Turunan Rumput Laut hidrokoloid dapat berupa pada produk olahan daging (nugget, sosis-red), susu, kosmetik, farmasi dan olahan lainnya. Produk hidrokoloid dapat disubstitusikan oleh aditif lain seperti modified starch atau gelatin.
“Dari sisi kesehatan produk turunan rumput laut lebih sehat dan halal,” jelasnya.
Sekira 50% produk turunan rumput laut adalah semi refine karaginan. Hal ini dikarenakan, pangsa pasar semi refine karagenan jauh lebih banyak dibanding refine di Indonesia.
Pakar dan Peneliti Rumput Laut dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Jana Tjahjjana Anggadireja mengakui, rumput laut merupakan komoditas multifungsi. Rumput laut banyak diminati industri karena memiliki fungsi hidrokolid.
Dalam dunia farmasi, jelas Jana, kandungan hidrokolid pada rumput laut memiliki zar penyeimbang. Contohnya, untuk membantu campuran minyak dan air dalam obat.
“Hasilnya obat dalam bentuk sirup. Produk farmasi lainnya itu adalah pasta gigi dan sabun,” kata Jana.
Selain untuk kebutuhan farmasi, hidrokolit pada rumput laut juga berkhasiat sebagai olahan farmasi. Ada tiga jenis rumput laut yang dapat diandalkan oleh industri kosmetik. Di antaranya adalah, claurepa, karaginan, dan ulva.
Sebenarnya, selain ketiga jenis itu, masih ada jenis rumput laut lainnya di Indonesia yang dapat digunakan sebagai campuran kosmetik. Yakni, rumput laut jenis papi loca spesies. Rumput laut jenis ini tumbuh di pulau Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara. Sayang jenis ini jarang digunakan oleh industri kosmetik.
“Fungsi papi loca spesies itu membuka pori-pori kulit agar lebih sehat,” jelasnya.
Sebenarnya, rumput laut digunakan sebagai bahan campuran bukan hal yang baru. Sejak dahulu rumput laut telah digunakan untuk kaum hawa mempercantik diri. Ia menuturkan, dulu, di pesisir pantai banyak wanita berjemur sambil mengoleskan krim yang telah dicampur dengan rumput laut di bagian wajahnya.
“Krim itu dipercaya untuk membersihkan muka dari bakteri-bakteri yang ada di wajah,” lanjutnya.
Senada dengan Aziz, Jana menjelaskan, karagenan banyak diminati industri untuk campuran pembuatan makanan seperti hamburger, sosis. Sebab, rumput laut dapat membuat rasa daging di sosis dan hamburger menjadi lebih berserat. Sayang, tak semua industri sosis mempercayai kualitas rumput laut dalam negeri.
“Tapi sudah mulai produk daging itu menggunakan karagenan dalam negeri,” kata Jana.
Sayangnya, banyak manfaat dari rumput laut itu tak dapat diolah di Indonesia. Pasalnya, sejauh ini hanya satu perusahan saja yang fokus untuk mengembangkan olahan dari rumput laut ini. Belum lagi masalah lainnya, masih banyak rumput laut dalam negeri memiliki kualitas buruk.
Karena itu, Jana mendorong, pemerintah untuk mengedukasi para petani rumput laut. Tujuannya, agar budidaya rumput laut dalam negeri kian maju seiring dengan perkembangan teknologinya.
“Agar tanaman rumput laut ini tidak dipanen dengan sembarangan. Pedagang rumput laut juga harus diedukasi biar kualitas yang dijual juga bagus sehingga pembeli mendapat rumput laut kualitas bagus,” tandas Jana.