
Semakin banyak bukti bahwa pengasaman laut dan meningkatnya temperatur akan berdampak yang sangat buruk pada organisme dan ekosistem laut. Sebenarnya, hal ini merupakan keadaan yang sedang kita hadapi.
Terumbu karang mengalami pemutihan, sedangkan siput dan organisme laut lainnya yang mengapur kesulitan membuat cangkang, sisik, dan kerangka, serta hewan laut kanak-kanak bahkan kesusahan mencari habitat yang cocok.
Sebaliknya, banyak produsen utama, termasuk rumput laut, diprediksi akan berkembang di perairan laut asam di masa depan–karena mereka membutuhkan CO₂ dari air laut untuk memproduksi energi melalui fotosintesis.
Manusia telah mengonsumsi rumput laut selama puluhan ribu tahun lamanya. Kini miliaran orang, terutama di Asia, menyantap rumput laut hasil budidaya. Namun, sementara kondisi perairan laut di masa depan mungkin meningkatkan jumlah panen rumput laut, kita belum tahu bagaimana perubahan iklim akan mempengaruhi kandungan nutrisi rumput laut. Untuk mencari tahu hal ini, baru-baru ini kami meneliti bagaimana kandungan yodium rumput laut akan dipengaruhi oleh skenario perubahan iklim di masa depan.
Rumput laut adalah salah satu sumber alamiah terbaik untuk yodium, dan mineral ini penting untuk pembentukan hormon tiroid dalam tubuh. Terlalu banyak maupun kekurangan yodium dapat mengubah cara kerja kelenjar hormon tiroid dalam tubuh. Jika perubahan iklim mempengaruhi konsentrasi yodium di dalam rumput laut, maka manusia–dan binatang lainnya–yang mengonsumsi rumput laut sebagai makanan pokok akan mengalami permasalahan kesehatan yang serius.