Pengaruh Perlakuan Panen Terhadap Mutu Rumput Laut
Rabu, 02 May 2007 - Sumber: Ida Farida (GMP PA) - Terbaca 5694 x - Baca: 03 May 2026
Bagian 1 dari 2 Bagian. Perlakuan penanganan panen penjemuran purusu di para-para, utuh dipara-para dan utuh gantung tidak menyebabkan pertambahan berat berdasarkan perhitungan “berat kering”.
Tujuan : mengetahui pengaruh dari Perlakuan Panen rumput laut E cottonii:
1. Purus Penjemuran di para-para (P)
2. Tidak di Purus Penjemuran di para-para (TP)
3. Tidak di Purus penjemuran di gantung (PG)
Terhadap mutu rumput laut kering dan produk olahannya ATC ( Alkali Treated Cottonii)
Note: kode 30, 40, 60 menunjukkan umur panen
Trial ini dilakukan di 3 lokasi di : Jeneponto Sulsel, Maumere NTT dan Ende NTT. Semua bibit yang digunakan adalah Maumere. Berikut hasil trial yang telah di analisa di laboratorium Seaplant Net. Berikut hasil analisa tersebut
Kesimpulan :
Perlakuan penanganan panen penjemuran purusu di para-para, utuh dipara-para dan utuh gantung tidak menyebabkan pertambahan berat berdasarkan perhitungan“berat kering”. Pertambahan berat kemungkinan disebabkan perbedaan kadar air dari salah satu perlakuan yang menyebabkan bertambahnya berat.
Penjemuran gantung memiliki keuntungan dalam hal meningkatkan SFDM dan mengurangi presentase garam dan benda asing/kotoran karena posisi menjemur yang vertical menyebabkan kotoran dan garam yang menempel dirumput laut jatuh kebawah selain itu kemudahan dalam hal pengemasan karena bentuknya yang lurus.
1. Kadar Air (MC)
Gbr 1. Trial MC di Maumere, NTT
Gbr. 2 Trial MC di Ende, NTT
Gbr 3. Trial MC di Jeneponto, Sulsel
Pada sampel di Maumere yang dilakukan selama 3 hari terlihat pada penjemuran gantung memiliki kadar air yang lebih besar dari penjemuran dipara-para baik yang dipurusuk atau utuh. Hal ini kaitannya dengan berat dari rumput laut kering yang dihasilkan jika pertambahan berat diikuti dengan besarnya kadar air berarti pertambahan berat tersebut diakibatkan dari kadar air dari bahan tersebut (lihat pembahasan pada Berat Kering Rumput Laut Kering) . sedangkan di Ende tidak didapat dilihat kecendrungannya karena dari saat sampel selesai dijemur kemudian dipacking untuk pengiriman ada selang waktu 3 bulan yang dapat menyebabkan peningkatan kadar air begitu pula grafik pada Jeneponto tidak terlihat perbedaanya
2. Berat Kering Rumput Laut kering
Gbr 4. Trial Dry Yield di Maumere
Gbr 5. Trial Dry Yield di Ende
Persentase berat kering rumput laut kering ini dihitung berdasarkan berat rumput laut kering yang telah dikurangi kadar airnya. Dari berat awal rumput laut segar yang digunakan 10.000 g di Maumere dan 10.000 g pada masa tanam 30 hari sedangkan 7.000 g pada masa tanam 60 hari di Ende terlihat pada grafik tidak ada kecendrungan penambahan berat terhadap salah satu perlakuan post harvest
3. Kadar Garam dan Benda asing (S&S)
Gbr 6. Trial S&S di Maumere, NTT
Gbr. 7 Trial S&S di Ende, NTT
Gbr 8. Trial S&S di Jeneponto, Sulsel
Persentase garam dan benda asing pada penjemuran gantung paling kecil kemudian diikuti pada penjemuran para-para sampel tidak dipurusu dan yang paling besar pada penjemuran para-para sampel purusu di Maumere. Hal ini kemungkinan disebabkan pada penjemuran gantung garam dan pasir jatuh kebawah pada waktu dijemur yang bisa dilihat pada penampakan visual penjemuran gantung lebih bersih. Sedangkan pada penjemuran di Ende (karena penyimpanan dari selesai penjemuran dan parking untuk pengiriman ada ada selang waktu 3 bulan yang mungkin saja sampel menjadi kotor karena debu pada waktu disimpan) dan Jeneponto tidak terlihat trendnya
4. Kandungan Rumput Laut Yang Bebas dari Garam dan benda Asing (SFDM)
Gbr 9. Trial SFDM di Maumere, NTT
Gbr. 10 Trial SFDM di Ende, NTT
Gbr. 11. Trial SFDM di Jeneponto, Sulsel
Persentase kandungan SFDM pada penjemuran gantung di Maumere dan Jeneponto terlihat lebih besar dari pada dua perlakuan lainnya . Hal ini kemungkinan disebabkan presentase kandungan garam dan benda asing lebih kecil (sampel terlitat lebih bersih ) sehingga meningkatkan SFDM sampel.