Kamis, 21 Jun 2007 - Sumber: Modul TOT untuk Trainer - Terbaca 14848 x - Baca: 04 May 2026
Rumput laut terdiri dari kelompok rumput laut merah (Rhodophyceae), rumput laut coklat (Phaeophyceae), rumput laut hijau (Chlorophyceae), dan rumput laut biru-hijau atau algae biru hijau (Cyanophyceae). Berikut ini adalah urairan kelompok Rhodophyceae yang masing-masing terdiri dari bebera jenis rumput laut. Materi ini sebagian besar diambil dari Ahda et al. (2004)
Rumput laut merah (Rhodophyceae) memiliki berbagai bentuk dan variasi warna. Thalli-nya mempunyai variasi bentuk, tekstur dan warna. Thallus adalah sebutan ilmiah untuk batang pada tanaman rumput laut. Bentuk thallus ada yang silindris, gepeng dan lembaran. Rumpun terbentuk dalam berbagai jenis percabangan mulai dari yang paling sederhana (bentuk filament) sampai bentuk yang kompleks. Warna thallus beragam, ada merah, ungu, pirang, coklat dan hijau. Algae merah mengandung pigmen fotosintetik berupa karotin, xantofil, fikobilin terutama r-fikoeritrin (penyebab warna merah) dan klorofil a dan d. Rumput laut merah mempunyai sifat adaptasi kromatik, yaitu mempunyai kemampuan penyesuaian proporsi pigmen dengan berbagai kualitas pencahayaan yang dapat menimbulkan berbagai warna thallus. Dalam dinding sel terdapat selulosa dan produk fotosintetik berupa karaginan, agar, furcelaran dan porpiran.
Perkembangbiakan dilakukan dengan jalan penyebaran spora dan gamet serta fragmentasi thallus. Spora dan gamet umumnya tidak memiliki alat gerak seperti cambuk atau flagella. Reproduksi seksual dilakukan dengan karpogonia dan spermatangia. Pertumbuhan bersifat uniaksial dan multiaksial. Pertumbuhan vegetatif secara fragmentasi thallus yang dapat tumbuh dan berkembang. Alat pelekat/penempel (holdfast) terdiri dari perakaran bersel tunggal dan bersel banyak.
Beberapa jenis rumput laut merah di perairan Indonesia antara lain :
Eucheuma cottonii sinonim E. alvarezii, Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty
Nama dagang: Rumput laut jenis ini memiliki nama dagang cottonii.
Nama ini umumnya lebih dikenal dan biasa dipakai dalam dunia perdagangan nasional dan internasional bagi rumput laut yang menghasilkan kappa karaginan. Alvarezii yang menjadi nama spesies rumput laut ini diberikan untuk menghargai Vicente (Vic) Alvarez yang merupakan pionir dalam budidaya rumput laut jenis ini. Terdapat pula rumput laut dengan nama ilmiah K. cotonii yang memiliki thallus
Gambar 1. Eucheuma cottonii atau E. alvarezii atau Kappaphycus alvarezii, Atmadja et al. (1996)
Identitas : Thallus silindris, permukaan licin, cartilagineus, warna hijau, hijau kuning, abu-abu atau merah. Penampakan thalli bervariasi mulai dari bentuk sederhana sampai kompleks. Duri-duri pada thallus mirip seperti pada E. spinosum tetapi tidak tersusun melingkari thallus. Percabangan ke berbagai arah dengan batang-batang utama keluar saling berdekatan di daerah basal (pangkal). Cabang-cabang pertama dan kedua tumbuh membentuk rumpun yang rimbun dengan ciri khusus mengarah ke arah datangnya sinar matahari. Cabang-cabang tersebut ada yang memanjang atau melengkung seperti tanduk.
Habitat dan Sebaran : Di alam, pertumbuhannya melekat pada substrat dengan alat perekat berupa cakram. Jenis ini asal mulanya didapat dari perairan Sabah (Malaysia) dan Kepulauan Sulu (Filipina). Kemudian dikembangkan ke berbagai negara Indonesia, Malaysia, Thailand sebagai tanaman budidaya.
Nilai dan potensi ekonomi : Di Indonesia, seluruh produksinya berasal dari budidaya, antara lain dikembangkan di Jawa, Bali, NTB, Sulawesi dan Maluku. Sebagai komoditas ekspor dan bahan baku industri dalam negeri penghasil karaginan. Karaginan yang dihasilkan adalah tipe kappa karaginan. Oleh karena itu jenis ini secara taksonomis dirubah namanya dari Eucheuma alvarezii menjadi Kappaphycus alvarezii.
Eucheuma denticulatum (sinonim : E. spinosum)
Nama daerah : Agar-agar patah tulang. Nama dagang rumput laut ini adalah spinosum. Nama dagang ini juga mengacu kepada setiap jenis rumput laut yang memiliki semacam duri yang keluar dari thallus dan mengacu kepada rumput laut yang menghasilkan iota karaginan setelah diekstrakasi.
Gambar C1.2. Eucheuma denticulatum, Atmadja et al. (1996)
Indentitas : Thallus silindris, permukaan licin, cartilagenous, warna coklat tua, hijau kuning atau merah ungu. Ciri khusus secara morfologis memiliki duri yang tumbuh berderet melingkari thallus dengan interval yang bervariasi sehingga membentuk ruas-ruas thallus diantara lingkaran duri. Percabangan berlawanan, berselang seling dan timbul teratur pada deretan duri antar ruas serta merupakan kepanjangan dari duri tersebut. Cabang dan duri ada juga yang tumbuh pada ruas thallus tetapi agak pendek. Ujung percabangan meruncing dan setiap percabangan mudah melekat pada substrat yang merupakan ciri khas E. spinosum.
Habitat dan Sebaran : Rumput laut ini tumbuh tersebar di perairan Indonesia pada tempat-tempat yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya, antara lain substrat batu, air jernih, ada arus atau tekanan gerakan air lainnya, kadar garam antara 28-36 ppt dan cukup sinar matahari.
Nilai dan potensial ekonomi : merupakan komoditas ekspor dan konsumsi dalam negeri. Dimanfaatkan sebagai bahan makanan, sayuran dan lalapan di beberapa tempat antara lain di Lombok Barat, Jawa Barat. Kandungan kimianya yang penting adalah iota karaginan.
Eucheuma edule
Nama daerah : agar-agar besar (Kepulauan Seribu)
Identitas : Thallus silindris, permukaan licin, gelatinaeus-cartilaginaeus, warna hijau-kuning atau coklat-hijau. Percabangan berselang-seling dengan interval yang jarang. Pada Thallus terdapat benjolan-benjolan yang sebagian berkembang menjadi semacam duri-duri besar. Ukuran thallus umumnya lebih besar dari pada jenis Eucheuma lainnya, sehingga rumpun tampak lebih kokoh tetapi tidak begitu rimbun.
Gambar C1.3. Eucheuma edule, Atmadja et al. (1996)
Habitat : Pertumbuhannya menempel pada batu di perairan rataan terumbu karang. Kelimpahannya rendah (tidak begitu umum dijumpai).
Nilai dan potensi ekonomi : Sebagai sumber kappa karaginan merupakan komoditas ekspor seperti halnya dengan Kappaphycus alvarezii hasil budidaya. Produksinya masih bersifat alami, belum ada hasil budidaya. Populasinya di alam tidak begitu banyak.
Eucheuma serra
Nama daerah : Bulung lipan (Bali)
Identitas : Thallus gepeng, pinggir bergerigi, permukaan licin, cartilagineus, warna merah atau merah pucat. Ciri khusus secara morfologis menyerupai bentuk binatang lipan sehingga di Bali dinamai bulung lipan. Percabangan berselang-seling tidak beraturan dan membentuk rumpun yang rimbun.
Gambar C1.4. Eucheuma serra, Atmadja et al. (1996)
Habitat dan Sebaran : tempat tumbuh umumnya pada perairan yang selalu terkena gerakan air, di bagian ujung luar terumbu, melekat pada batu. Terdapat tumbuh di perairan Bali dan Lombok.
Nilai dan Potensi ekonomi : Belum banyak dimanfaatkan secara komersial.
Gracilaria arcuata
Nama daerah : Ramen (Lombok)
Identitas : Thallus bulat silindris, licin, warna pirang hijau, atau hijau jingga. Substansi cartilaginous, menempel pada substrat dengan holdfast berbentuk cakram. Rumpun merimbun di bagian atas dengan percabangan mengecil pada bagian pangkal, ujung runcing.
Habitat : Umumnya tumbuh melekat pada batu dan tersebar di daerah rataan terumbu karang.
Nilai dan potensi ekonomi : Masih belum termanfaatkan, mengandung agar.
Gambar C1.5. Gracilaria arcuata, Atmadja et al. (1996)
Gracilaria coronopifolia
Identitas : Thallus silindris, licin, warna coklat-hijau atau coklat kuning (pirang), menempel pada substrat dengan cakram kecil. Percabangan mendua bagian (dichotomous) berulang-ulang. Umumnya rimbun pada porsi bagian atas rumpun. Warna hijau-pirang. Panjang thalli dapat mencapai ukuran 10 cm.
Gambar C1.6. Gracilaria coronopifolia, Atmadja et al. (1996)
Habitat : Tumbuh pada batu di daerah terumbu karang.
Nilai dan potensi ekonomi : Sebagai sumber agar, protein, vitamin, mineral. Merupakan bahan baku untuk industri agar-agar dalam negeri.
Gracilaria foliifera
Identitas : Thallus silindris pada bagian pangkal dan gepeng pada bagian atas, warna coklat hijau, cartilagenous. Percabangan mendua arah (dichotomous) dan membentuk rumpun yang rimbun. Panjang thalli dapat mencapai rata-rata 9 cm.
Habitat dan Sebaran : Tumbuh menempel pada batu di daerah rataan terumbu. Sebarannya antara lain terdapat di daerah pantai Selatan Jawa, Selat Sunda.
Gambar C1.7. Gracilaria foliifera, Atmadja et al. (1996)
Nilai dan potensi ekonomi : Sebagai sumber agar
Gracilaria eucheumioides
Nama daerah : Agar-agar jahe (Kepulauan Seribu)
Identitas : Thallus gepeng, halus, pinggir bergerigi, membentuk rumpun radial seperti umbi tanaman jahe, oleh karena itu di Kep. Seribu dinamai agar-agar jahe. Percabangan dichotomous. Ukuran thalli panjang 10 cm, lebar 1 cm. Warna hijau-coklat.
Gambar C1.8. Gracilaria eucheumioides, Atmadja et al. (1996)
Habitat dan Sebaran : Tumbuh melekat pada substrat batu, umumnya di daerah rataan terumbu karang. Kelimpahannya tidak begitu tinggi, dan tidak termasuk jenis yang umum didapat. Tidak memiliki sebaran tumbuh yang begitu meluas di perairan Indonesia.
Nilai dan potensi ekonomi : Sebagai sumber agar terutama bagi penduduk lokal. Diolah menjadi agar-agar untuk makanan lokal.
Gracilaria gigas
Identitas : Thallus agak besar dibandingkan dengan G. verrucosa, silindris, agak kasar dan kaku, warna hijau-kuning atau hijau. Ukuran thalli mencapai panjang 30 cm dengan diameter sekitar 0,5 – 2 mm. Percabangan cenderung memusat ke pangkal, memanjang, berselang-seling, berulang-ulang searah, ujung runcing. Jarak antara cabang relatif berjauhan, sekitar 5 – 25 mm.
Gambar C1.9. Gracilaria gigas, Atmadja et al. (1996)
Habitat dan Sebaran : Belum banyak diketahui di Indonesia.
Nilai dan potensi ekonomi : Sama halnya dengan G. verrucosa. Sudah dibudidayakan di tambak.
Gracilaria verrucosa
Identitas : Thallus silindris, licin berwarna kuning-coklat atau kuning hijau. Percabangan berselang-seling tidak beraturan, kadang-kadang berulang-ulang memusat ke bagian pangkal. Cabang-cabang lateral memanjang menyerupai rambut, ukuran panjang sekitar 25 cm dan diameter thallus sekitar 0,5 – 1,5 mm.
Gambar C1.10. Gracilaria verrucosa, Anonim (2003)
Habitat dan Sebaran : Di alam terdapat menempel pada substrat batu atau benda lainnya. Alga jenis ini sekarang merupakan tanaman budidaya di tambak yang banyak di jumpai di daerah Takalar, Sulawesi Selatan.
Nilai dan potensi ekonomi : Sebagai bahan baku pabrik agar-agar di dalam negeri dan juga merupakan komoditas ekspor. Sudah dibudidayakan di tambak.
Identitas : Thallus bulat, licin, berbuku-buku atau bersegmen-segmen. Membentuk rumpun yang lebat berekspansi melebar (radial) dapat mencapai 25 cm. Ukuran thallus 1-1,5 mm, tinggi 15 cm. Percabangan timbul pada setiap antar buku. Warna hijau kekuning-kuningan (agak hijau ke arah basal/dasar dan kuning di bagian ujung). Substansi cartilaginous mudah patah (getas/rapuh).
Gambar C1.11. Gracilaria salicornia, Atmadja et al. (1996)
Habitat dan Sebaran : Tumbuh pada batu kerikil di daerah rataan terumbu berpasir (tumbuh menempel pada batu dan pasir) di perairan pasang surut. Sering kepadatan terdampar di pantai karena patah terhempas ombak. Sebaran, umumnya terdapat di daerah terumbu karang yang tersebar luas di perairan laut Indonesia.
Nilai dan potensi ekonomi : Belum banyak dimanfaatkan, tetapi di negara lain dimakan sebagai lalap/sayuran. Kandungan koloid berupa agar, disamping komponen kimia lainnya.
Porphyra atropurpurae
Identitas : Porphyra spp. merupakan salah satu jenis makroalgae dari kelas algae merah (Rhodophyceae), ordo Bangiales, dan famili Bangiaceae. Porphyra spp. juga lebih dikenal dengan istilah nori.
Habitat dan sebaran : Dapat ditemui mulai dari daerah sepanjang pantai Amerika Latin, Jepang, Korea, Cina, Eropa, dengan tipe pantai berkarang banyak mengandung CaCo3, berombak dan berarus kuat. Porphyra spp. lebih menyukai perairan yang kaya akan unsur hara dan salinitas yang rendah, dapat pula ditemui pada muara-muara sungai dengan intensitas penyinaran matahari yang tinggi (Chan, 2000).
Gambar C1.12. Phorphyra atropurpurae., Anonim (2004)
Nilai dan potensi ekonomi : Telah banyak dimanfaatkan sebagai salah satu sumber makanan pokok, bahan campuran berbagai obat-obatan. Kandungan nutrisi pada setiap nori kering, antara lain meliputi protein (25 – 30%), lemak (0,12 – 2,48%), karbohidrat (7 – 18%) serta mengandung vitamin A, B, C, dan D, dengan vitamin C yang dikandung diatas 140 mg/100 gr basah. Manfaat lain dari nori adalah untuk diet karena mengandung iodin yang dibutuhkan untuk fungsi normal dari kelenjar thyroid dalam tubuh (Mumford TF, Miura A., 1988).
Dari golongan rumput laut coklat ini terdapat 3 jenis yang memiliki nilai komersial tinggi dan sudah dibudidayakan, yaitu
Genus Kappaphycus
Nama dagang: cottonii
Simbul: KA
Spesies yang komersial: K. alvarezii (ALV), K. cotonii (COT), K. inerme INM), K. interme (INR), K. striatum (STT), K. procustenum (PRO)
Nama umum: Agal agal, Agal agal besar, Agar agar, Agar agar besar, Agar agar pulau, Agar agar seru laut, Chilin-t’sai, Cottonii, Eucheuma, Eucheuman, Guso, Kirinsai
Genus Euchema
Nama dagang: spinosum
Simbul: EU
Spesies komersial: E. cartilaginum (CAR), E. denticulatum, E. isiforme (ISI), E. muricatum.
Nama umum: Agal agal, Agal agal besar, Agar agar, Agar agar besar, Agar agar pulau, Agar agar seru laut, Chilin-t’sai, Crude agar, East-Indian carrageenan, Eucheuma, Eucheuman, Java agar, Kirinsai, Makassar weed, Ruwe agar, Ryukyu-tsunomata, Singapore weed, Spinosum, Tosaka nori, Zanzibar weed
Genus Betaphycus
Nama dagang: gelatinae
Simbul: BE
Spesisen komersial: B. gelatinum
Nama umum: Eucheuma, Gelatinae
Terdapat variasi varitas (tipe) pada K. Alvarezii, di antaranya adalah sebagai berikut:
Tambalang
Tipe atau varitas ini memiliki thallus yang panjang, percabangan lebih sedikit dibandingkan dengan tipe kembang, diameter thallus kecil hingga besar, banyak terdapat di Indonesia, Filipina, India, Sabah, Malaysia dan Tanzania
Sakol
Rumput laut K. Alvarezii tipe ini umumnya memiliki rumpun dengan percabangan yang panjang dan pendek-cabang pendek, diameter cabang thallus relatif kecil. Sering ditemukan pada subtrat berpasir atau berlumpur seperti di Pulau Sacol, Zamboanga, Filipina.
Kembang
Tipe ini mirip kembang dengan thallus pendek dan rimbun, selintas mirip tipe sakol. Banyak ditemukan di terumbu karang dangkal di perairan Filipina. Tipe ini merupakan komoditas budidaya rumput laut utama di wilayah Tawi-Tawi sejak tahun 2000.
Bisaya
Memiliki bentuk antara seperti Tambalang dan Sakol. Tipe ini banyak di kawasan Bohol di Filipina.
Sumba
Tipe ini memiliki thallus yang panjang dengan cabang yang tebal. Lebih tegap, kasar dan kekar dibandingkan dengan tipe Tambalang. Berasal dari Sumba, Indonesia, tapi sekarang sudah menyebar dan ditanam di beberapa daerah di Indonesia. Tipe ini sangat disukai oleh para petani rumput laut di Bali.
Tipe lainnya
Terdapat banyak tipe lainnya dari K. alvarezii ini dan umumnya diberi nama sesuai dengan daerah dimana tipe ini dibudidayakan. Beberapa tipe lainnya antara lain sebagai berikut; kapilaran, vanguard, adik dan sebagainya. Kapilaran dan vanguard merupakan varian dari tipe tambalang, sedangkan adik merupakan varian dari tipe kembang.