
Ratusan mil dari garis pantai terdekat, rumput laut mengayun di sepanjang dasar laut seukuran pegunungan Swiss. Mesin kamera yang dikendalikan dari jarak jauh meluncur di perairan biru kehijauan di sudut barat Samudra Hindia, merekam video yang oleh para ilmuwan digambarkan sebagai hamparan rumput laut terbesar di dunia.
Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), aktivitas manusia ternyata merusak rumput laut ini, dengan hamparan lapangan sepak bola menghilang setiap 30 menit di seluruh dunia. Reuters melaporkan, para ilmuwan kini berebut mengejar waktu untuk menyelamatkan rumput laut yang tersisa.
Banyak yang tidak diketahui, termasuk berapa banyak rumput laut yang tersisa. Jika Anda melihat data pemetaan rumput laut ini, banyak yang sudah kosong, ?kata ilmuwan Universitas Oxford, Gwylum Rowlands. Lamun berbeda dengan rumput laut. Rumput laut merupakan jenis alga multiseluler yang memiliki jaringan pembuluh sedikit atau tidak ada sama sekali, sedangkan rumput laut tumbuh di bagian pangkal dan memiliki akar, batang dan daun.
Keduanya berbeda dalam hal reproduksi, struktur, dan cara mereka memproses nutrisi dan melarutkan gas.
The Journal of Nature Geoscience melaporkan, rumput laut memiliki peran penting dalam mengatur lingkungan laut, menyimpan lebih dari dua kali lebih banyak karbon dioksida per mil persegi daripada hutan belantara pedalaman. Negara-negara yang berharap mendapatkan kredit dalam mengurangi emisi karbon dioksida dapat mengevaluasi rumput laut dan karbon yang disimpannya.
Rumput laut juga dapat menyeimbangkan tingkat keasaman air laut, karena lautan menyerap lebih banyak CO2 dari atmosfer dan menjadi lebih asam. Karenanya, daun hijau di dalam air mampu memberikan perlindungan bagi spesies kerang dan juga ikan yang membuatnya menjadi habutatnya.
Dalam sebuah penelitian di University of California, rumput laut di lepas pantai California terlihat mampu menurunkan tingkat keasaman hingga 30 persen di perairan tersebut. Keberadaannya juga membantu membersihkan air yang tercemar, mendukung siklus penangkapan ikan, melindungi wilayah pesisir dari erosi, dan menjebak plastik mikro.
?Lebih khusus lagi, spesies ini ada di mana-mana,? kata ketua peneliti Aurora Ricart.
Meskipun rumput laut dapat ditemukan di banyak wilayah pesisir di seluruh dunia, tingkat dangkal di zona keanekaragaman laut Saya de Malha, di Dataran Tinggi Mascarene, memungkinkan sinar matahari menembus hingga ke dasar. Hal ini menjadikan kawasan tersebut seperti padang rumput di Samudera Hindia, sehingga menyediakan tempat berteduh, berkembang biak, membesarkan dan memberi makan habitat bagi ribuan spesies laut.
Lokasi zona yang terpencil melindunginya dari ancaman di pantai, termasuk polusi dan eksplorasi kapal. Namun, bentangan serupa di banyak samudra internasional menghadapi kerusakan karena jalur kapal dan industri perikanan.
Maret lalu, para ilmuwan dari beberapa institusi, termasuk dari Exeter University, Inggris melakukan penelitian dengan Greenpeace untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data terkait rumput laut.
Meski belum mendapat gambaran, penelitian sejauh ini memperkirakan ada lamun seluas 300.000 kilometer persegi, di semua benua kecuali Antartika.
Studi lebih lanjut sedang dilakukan untuk mencari petunjuk tentang metode konservasi, pemuliaan dan perlindungan zona lamun untuk mendukung upaya mengatasi perubahan iklim. Peneliti juga ingin memastikan keberadaannya karena manusia sangat bergantung padanya sehingga kehidupan sumber makanan dari laut yaitu perikanan bisa diperpanjang hingga bertahun-tahun yang akan datang.