
Bisnis rumahan kerupuk tersebar di berbagai penjuru Lombok, termasuk Lombok Timur. Salah satunya Baiq Zuhriati yang sudah sejak lama melakoni usaha kerupuk soda. Kini dia beralih memproduksi kerupuk rumput laut yang lebih sehat. ”Setelah ada larangan penggunaan soda yang katanya mengandung boraks, saya coba buat pakai rumput laut. Kebetulan ada rumput laut dirumah dulu,” katanya.
Terbilang baru, Zuhriati mulai perlahan dengan mencoba mengenalkan kerupuk rumput laut ke teman-teman sekitar. ”Sekarang sudah banyak yang pesan,” katanya.
Harga yang ditarik cukup terjangkau. Untuk kerupuk masak Rp 5000 per 100 gram, lalu Rp 10.000 untuk 185 gram dengan kemasan yang lebih bagus dan tebal. Kemudian Rp 40.000 per kilogram kerupuk mentahan.
Untung yang didapatkan bisa mencapai Rp 250.000 untuk 25 kilogram kerupuk yang diproduksi. ”Kalau dilihat dari harga bisa dibilang lebih mahal kerupuk rumput laut dibanding kerupuk soda. Karena soda itu mengembang besar dan bisa dipotong jadi banyak,” ungkapnya.
Untuk modal yang dibutuhkan sama relatif seperti membuat kerupuk soda. Namun sekarang harga soda mulai mahal. ”Daripada kita pakai itu, kita tambah sedikit dengan soda putih yang dibolehkan untuk makanan,” ujarnya.
Setelah merasa kerupuk rumput laut mulai banyak peminat, ia sudah tidak lagi menjual kerupuk soda kuning. Tetapi memang masih banyak penjual kerupuk soda, dan itu yang menjadi pesaing untuk kerupuk rumput laut ini.
Saat ini usahanya mendapatkan bantuan rumah produksi dari Dinas Perikanan Lombok Timur. ”Pemerintah melihat kami menggunakan rumput laut, jadi diberikan bantuan berupa tempat dan alat produksi,” jelasnya.
Pengambilan rumput laut dilakukan di Seriwe, Lombok Timur. Pembelian rumput laut kering di petani biasanya dilakukan hingga satu kuwintal. Jumlah itu bisa digunakan untuk satu tahun produksi kerupuk. ”Penggunaannya tidak banyak. Karena kalau di rendam itu nanti akan mengembang. Biasanya kita rendam satu kilo,” terangnya.
Produksi biasa dilakukan dua hari sekali. Dan menghasilkan 25 kilogram. Supply masih dilakukan ke toko-toko sekitar dan pedagang kecil yang ada di Selong. ”Belum ada produksi dalam jumlah sangat besar karena pegawai juga masih kurang,” tandasnya.