Rumput Laut untuk Pasta Gigi hingga Pewarna Tekstil
RUMPUT laut yang selama ini lebih banyak dikenal sebagai bahan baku makanan seperti agar-agar atau puding sebenarnya telah dikembangkan pemanfaatannya menjadi sekitar 300 jenis produk yang bernilai komersial. Produk itu antara lain berupa kosmetik, pasta gigi, bahan pewarna tekstil, gel pengharum ruangan, dan selaput pelapis atau kemasan makanan.
Penggunaannya memang beragam karena berbagai jenis rumput laut mempunyai sifat fisika dan kimia yang berbeda. Tumbuhan laut ini berbentuk seperti benang kusut dan tanaman merambat.
Utari Budihardjo, yang mendalami bidang biologi konservasi dari Pascasarjana UI, mengatakan, yang banyak dikembangkan adalah dari kelompok alga merah karena menghasilkan agar-agar, algin, dan karaginan.
Alga makrolaut atau rumput laut adalah biota laut yang tergolong tanaman berderajat rendah, tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati yang kemudian disebut thallus. Karena itu, secara taksonomi dikelompokkan ke dalam Divisio Thallophyta, dengan empat kelas besar dalam divisio ini, yaitu Chlorophyceae (alga hijau), Phaeophyceae (alga coklat), Rhodophyceae (alga merah), dan Cyanophyceae (alga biru-hijau).
Menurut ahli peneliti utama BPPT bidang rumput laut Dr Jana Tjahjana Anggadiredja, sebagai pasta gigi, digunakan iota karaginan karena fiskositasnya tinggi dan strukturnya lebih lentur dan lembut. Hidrokoloid rumput laut memiliki kemampuan yang unik dalam membentuk gel dan sangat bervariasi pada suhu kamar, keras atau lembut dengan titik leleh tinggi atau rendah. Struktur gel juga menyebabkan tekstur pendek yang diinginkan untuk pasta gigi. Penggunaan rumput laut ini mulai menggeser bahan baku xanthan gum untuk pasta gigi.
Agar-agar selain sebagai bahan makanan juga digunakan untuk kosmetik karena mengandung zat pengemulsi yang baik, sedangkan alginat lebih banyak digunakan sebagai pewarna. Jenis yang dipilih untuk pewarna dari alga coklat. Alga ini terdiri dari paduan struktur kimia manuronat dan guluronat. Untuk pewarna tekstil, alga coklat yang digunakan adalah yang memiliki struktur manuronat lebih banyak. Struktur kimia alga ini dapat membawa zat pewarna namun lebih mudah melepaskan zat tersebut pada bahan kain. "Sebagai pewarna makanan dipilih alga yang memiliki struktur guluronat lebih banyak karena sifatnya yang mudah dicerna."
Dikemukakan Jana, yang juga Deputi Kepala BPPT Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi, bahan pewarna alami ini kini mulai banyak digunakan menggeser pewarna sintetis. Hal ini merupakan peluang bagi pemanfaatan rumput laut, khususnya jenis alginat yang banyak dijumpai di perairan Indonesia. Di Indonesia, alga coklat yang banyak ditemukan adalah spesies turbinaria dan sargasum, sedangkan di iklim subtropis digunakan laminaria.
Rumput laut Indonesia
Utari, yang juga Asisten Deputi Menteri Negara Riset dan Teknologi, menambahkan, meskipun keanekaragaman jenis rumput laut di perairan Indonesia cukup tinggi, saat ini baru dikenal lima jenis yang bernilai ekspor tinggi, yaitu Gelidium, Gelidiella, Hypnea, Eucheuma, dan Gracilaria. Dua jenis di antaranya telah dibudidayakan dan berkembang di masyarakat, yaitu Eucheuma dan Glacilaria.
Jenis-jenis rumput laut secara ekonomi menjadi penting karena mengandung senyawa polisakarida. Rumput laut penghasil karaginan dan penghasil agar, termasuk kelas alga merah, dan penghasil alginat dari kelas alga coklat. Secara umum, rumput laut yang tersebar luas di perairan Indonesia sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir untuk berbagai keperluan.
Dari segi pemanfaatan, sebenarnya sejak tahun 1920-an, tercatat 22 jenis rumput laut telah dimanfaatkan secara tradisional sebagai makanan, baik dibuat sayuran maupun sebagai penganan dan digunakan sebagai obat. Kemudian tahun 1990-an, penelitian menunjukkan telah berkembang menjadi 61 jenis dari 27 marga rumput laut yang telah digunakan.
Namun, penggunaannya selama itu terbatas untuk makanan dan obat tradisional. Belum ada upaya pengembangan lebih lanjut pada produk lain di Indonesia. Belakangan ini peneliti di ITB, melalui program riset unggulan, tengah mengembangkan pemanfaatan rumput laut untuk pewarna tekstil. Jana melihat, meskipun memiliki potensi rumput laut terbesar di dunia setelah Cile, Indonesia terbukti sangat tertinggal dalam pemanfaatannya. Ini karena di pasaran banyak beredar produk olahan lanjutan dari rumput laut, yang nilai tambahnya 60 persen lebih tinggi dibandingkan yang produk semi jadi.
Uniknya, sifat-sifat fisika-kimia hidrokoloid rumput laut ternyata memang telah memberikan banyak kemungkinan pada aplikasi baru yang lebih luas seperti cairan pembersih, pelapisan keramik, dan produk bertekanan, serta kertas. Salah satu pemanfaatan lain adalah pada printer atau mesin pencetak, baik pada produksi tekstil maupun karpet. Keduanya membutuhkan pasta printer dengan kondisi lancar pada saat dituangkan pada potongan karpet tetapi harus terkontrol dengan baik untuk mendapatkan tingkat penetrasi yang diperlukan. Sifat thixotropic yang amat luas dari hidrokolid rumput laut membuatnya sangat ideal dan cocok untuk tujuan ini.