Kertas Masa Depan dari Laut, tidak lagi dari Hutan
Kertas dari Laut, Mungkinkah?
Selama ini kita mengenal kertas dihasilkan dari kayu yang ditebang dari pepohonan di hutan, dengan laju deforestrasi hutan yang cukup tinggi mencapai 1,18 juta hektar. Namun, yang sering dilupakan bahwasanya Indonesia tidak hanya hutan dan daratan saja, akan tetapi 3/4 dari luas Indonesia berupa perairan atau lautan. Banyak potensi yang belum dioptimalkan diantaranya adalah rumput laut yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas, pengganti kayu dari hutan. Luas laut Indonesia yang sesuai untuk budidaya rumput laut diperkirakan seluas, 1,1 juta ha yang sampai saat ini belum digarap dengan maksimal.
Kunci sukses transformasi rumput laut jadi kertas adalah ditemukannya serat atau fiber. Bila kayu mengandung serat selulosa, rumput laut mengandung serat agalosa selebar 3-7 mikrometer dan panjang 0,5-1 milimeter, dengan fleksibilitas tinggi, tidak ditemukan unsur lignin, dan mengandung substansi perekat cair. Dari penelitian mikroskop terlihat ukuran dan bentuk serat agalosa lebih homogen, tidak seperti serat selulosa yang bulat, lonjong, atau pipih. Homogenitas ini yang membuat kualitas kertas lebih baik, lebih fleksibel, lebih halus.
Jenis rumput laut yang umumnya dibudidayakan di Indonesia adalah jenis adalah
Gracillaria untuk di tambak dan
Euchema sp. di laut. Dalam pembuatan kertas berbahan dasar rumput laut ini, jenis yang digunakan adalah alga merah
(red seaweeds / Rhodophyceae) species
Gracillaria.
Gracilaria memiliki nama daerah yang bermacam-macam, seperti: sango-sango, rambu kasang, janggut dayung, dongi-dongi, bulung embulung, agar-agar karang, agar-agar jahe, bulung sangu dan lain-lain.
Gracilaria memiliki kelebihan dibandingkan jenis alga merah yang lain seperti
Eucheuma Cottoni, Chondrus ( penghasil karaginan) dan
Fulcellaria (penghasil fulceran). Kelebihan
Gracilaria adalah seratnya lebih panjang berdasarkan hasil analisa seperti ditunjukkan pada Tabel berikut :
align="center">Jenis Analisa |
align="center">E. spinosum (Bali) % |
align="center"> E. spinosum (Sul Sel) % |
align="center">G. gigas (Bali) % |
Kadar air |
12,90 |
11,80 |
12,90 |
Protein (Crude protein) |
5,12 |
9,20 |
7,30 |
Lemak |
0,13 |
0,16 |
0,09 |
Karbohidrat |
13,38 |
10,64 |
4,94 |
Serat kasar |
1,39 |
1,73 |
2,50 |
Abu |
14,21 |
4,79 |
12,54 |
Mineral:Ca |
52,85 ppm |
69,25 ppm |
29,925 ppm |
Fe |
0,108 ppm |
0,326 ppm |
0,701 ppm |
Cu |
0,768 ppm |
1,869 ppm |
3,581 ppm |
Pb |
- |
0,015 ppm |
0,190 ppm |
Vitamin B1 (Thiamin) |
0,21 mg/100g |
0,10 mg/100g |
0,019 mg/100g |
Vitamin B1 (Riboflacin) |
2,26 mg/100g |
8,45 mg/100g |
4,00 mg/100g |
Vitamin C |
43 mg/100g |
41 mg/100g |
12 mg/100g |
Carrageenan |
65,75 % |
67,51 % |
- |
Agar |
- |
- |
47,34 % |
Proses pembuatan kertas dari rumput laut tidak berbeda daripada pembuatan kertas dari kayu. Ada lima proses pokok, yakni :
- penyiapan bahan baku;
- pemasakan rumput laut;
- ekstraksi rumput laut;
- pemutihan; dan
- pencetakan.
Secara umum, proses produksi dimulai dari panen rumput laut merah, kemudian dijemur, dibersihkan, dan dipotong-potong. Lalu dimasukkan dalam tungku dan dimasak pada suhu tinggi (boiling) sehingga keluar ekstrak "inti" berupa agar untuk pangan. Ampas rumput laut — yang telah diambil agar-agarnya — kemudian diputihkan (bleaching) lalu dihancurkan menjadi bubur rumput laut merah (pulp). Bubur inilah yang kemudian diolah jadi kertas.
Beberapa kelebihan yang dimiliki rumput laut sebagai bahan dasar kertas adalah pertumbuhan massa rumput laut yang sangat tinggi, yakni 5-10 % sehari. Dengan masa panen 70 hari, pertumbuhan tersebut sangat pesat dibandingkan pohon sebagai bahan baku kertas konvensional, yang baru dapat dipotong minimal 7 tahun bahkan 15 tahun pada negara-negara subtropis. Untuk negara tropis seperti Indonesia, rumput laut dapat dipanen sepanjang tahun, sedangkan negara beriklim subtropis, panen rumput laut hanya dapat dilakukan selama 2 kali dalam setahun. Tentu hal ini merupakan point plus bagi rumput laut Indonesia.
Kelebihan lain dari kertas berbahan dasar rumput laut adalah minimnya komponen racun yang ada pada kertas. Berbeda dengan kertas konvensional yang menggunakan bahan-bahan kimia dalam proses produksi, pengolahan kertas dari rumput laut diproses nyaris tanpa bahan kimia, kecuali pemutihan dengan klorin, sehingga hampir tidak ada limbah berbahaya yang dihasilkan. Dengan demikian proses ini aman bagi lingkungan dan tidak berdampak negatif bagi kesehatan. Setelah dilakukan pengujian, kertas rumput laut ini hanya mengandung 17 komponen racun, sedangkan kertas berbahan dasar kayu mengandung 40 komponen racun. Kondisi ini berpeluang menjadikan kertas berbahan dasar rumput laut sebagai bahan kemasan untuk produk pangan.
Pada akhirnya, dengan menjadikan rumput laut sebagai bahan baku kertas maka meningkatkan nilai guna dan nilai ekonomi rumput laut itu sendiri yang selama ini hanya diekspor dalam bentuk kering tanpa dilakukan pengolahan lanjutan. Hal ini menyebabkan harga rumput laut Indonesia jatuh dipasar internasional. Kajian singkat yang dilakukan oleh PT. Bank Ekspor Indonesia (BED pada tahun 2006 menunjukkan rata-rata komoditi rumput laut Indonesia di pasaran dunia terpaut pada harga 496 US$/ton. Harga rumput laut Indonesia termasuk yang paling murah jika dibandingkan dengan Negara eksportir lainnya, rumput laut Cina memiliki harga 1,943 US$/ton, rumput laut Korea 2,984 US$/ton, rumput laut Chile 680US$/ton. Kelemahan harga rumput laut Indonesia disebabkan oleh karena sebagian besar rumput laut kita diekspor dalam bentuk mentah (raw material), padahal value-added rumput laut mentah yang diolah memberikan premium yang sangat tinggi. Sebagai contoh, Cina dan Korea mengolah rumput laut menjadi bahan makanan dan supplemen mendapat apresiasi harga yang tinggi di Jepang. Keuntungan lain dari olahan rumput laut adalah pengenaan tarif yang lebih rendah, bahkan nol, dibanding dalam bentuk mentah yang dapat dikenakan tarif hingga 40% di Jepang.
Kertas: industri yang tidak akan pernah mati
Meskipun marak
issue paperless pada masa yang akan datang dengan semakin majunya teknologi digital, penetrasi internet dan semakin murahnya teknologi digital, kertas akan tetap dibutuhkan. Bukankah keberadaan computer pada awal kemunculannya diharapkan bisa mengubah arah hidup menjauh dari kebutuhan kertas? tapi nyatanya konsumsi kertas semakin meningkat. Inovasi kertas harus terus dikembangkan. Mungkin kita perlu belajar dari salah satu perusahaan kertas Italia,
Cartiera Favini yang cukup produktif menciptakan kertas-kertas inovatif, diantaranya kertas dari limbah tekstil, kertas dari efluen alga (50.000 ton alga sebagai bahan baku kertas setara dengan 30.000 ton kayu), limbah pertanian (limbah pemrosesan gula dan maizena dengan pemanfaatan tongkol jagung, dedaunan dan tangkai). Perusahaan Favini juga sudah menemukan cara menggunakan residu-residu lain yang hanya mempunyai sedikit atau tanpa isi serat, seperti sisa pulp dari proses pengepresan jeruk atau anggur. Dalam hal ini pulp akan dikeringkan dan dibentuk menjadi tepung yang kemudian bisa digunakan untuk menggantikan ssejumlah selulosa kayu dan pengisi-pengisi mineral di dalam proses kertas. Perusahaan memberi nama-nama produk-produk tersebut sesuai bahan asli, sebagai contoh, "kertas jeruk", "kertas lemon" dan "kertas anggur". Dan lebih ekstrim serta mengejutkan, ECOFAVINI juga berhasil menciptakan apa yang disebut
Smog Paper. Pabrik kertas seperti diketahui menghasilkan pengotor-pengotor berbahaya. yang ekuivalen dengan polusi dari 30 mobil bepergian pada 50kph. Perusahaan ini sudah menemukan teknologi untuk menjadikan gas-gas ini harmless (disebut
smog flour). Dengan cara yang sama seperti
vegetable flour, dapat digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi kertas.
Selain itu, ide dari Jepang berikut juga layak untuk terus dikaji sebagai salah satu usaha untuk melakukan penghematan kayu dan memanfaatkan kertas bekas menjadi produk yang bernilai ekonomi dan bernilai guna tinggi, yakni dengan mengubah kertas menjadi kayu. Ide ini sebenarnya merupakan upaya memperpanjang usia pemanfaatan satu barang, sehingga bisa menghemat pemakaian bahan dari alam. Konsepnya sesungguhnya sangat sederhana. Jika dalam pembuatan kertas, zat lignin yang ada di kayu dihilangkan, maka untuk mengubah kertas menjadi kayu dilakukan dengan cara mengembalikan lignin tadi pada kertas daur ulang. Namun, kertas tentu tidak bisa berkali-kali didaur ulang, karena lama-kelamaan seratnya menjadi pendek. Kayu buatan ini punya beberapa kelebihan antara lain sangat mudah dibentuk, karena bisa dicetak seperti plastik, namun tetap memiliki sifat fisik sebagai kayu. Kekuatan kayu tersebut dapat diatur kekuatannya berdasarkan jumlah lignin yang ditambahkan. Jadi prosesnya bahan serat ini dibentuk dulu baru kemudian ditambahkan lignin. Bahan kayu buatan ini bersifat biodegradable karena memang tersusun dari zat-zat yang sama seperti kayu alamiah sehingga ramah terhadap lingkungan.