Wakame dapat Menurunkan Tekanan Darah
Rumput laut adalah salah satu makanan tradisional yang populer di Jepang. Salah satu rumput laut yang sering di konsumsi adalah Wakame. Bagi yang pernah/sedang tinggal di Jepang tentunya sudah pasti mengetahui nama wakame. Wakame (
Undaria pinnatifida), sering disajikan sebagai salad, sup, dan sebagai penghias pada beberapa sajian makanan.
Beberapa studi meyebutkan bahwa wakame mempunyai beberapa manfaat kesehatan, seperti mencegah hiperlipidemia (kelebihan lemak) dan mencegah terjadinya kanker (percobaan pada tikus), serta sebagai bahan yang dapat menurunkan tekanan darah pada manusia. Adanya kandungan serat makanan dan beberapa jenis mineral menyebabkan wakame bermanfaat untuk mencegah akibat gizi lebih.
Penelitian Sato, dkk yang telah dipublikasikan di Journal of Agricultural and Food Chemistry (2002), berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi 7 peptida yang berasal dari wakame. Selanjutnya menggunakan tikus spontaneously hypertensive rats (SHR); spesies tikus hipertensi secara genetik, mereka berhasil membuktikan peptida-peptida tersebut dapat menghambat aktivitas angiotensin 1-converting enzyme (ACE); suatu enzim yang bertanggung jawab terhadap peningkatan tekanan darah.
Dengan mengunakan liquid chromatography-mass spectrometry (LC-MS), berhasil diidentifikasi asam-asam amino penyusun peptida-peptida terebut. Ke-7 peptida tersebut adalah valin-tirosin, isoleusin-tirosin, alanin-triptofan, phenilalanin-tirosin, valin-triptofan, isoleuusin-triptofan, dan leusin-triptofan. Ke-7 peptida tersebut mempunyai nilai IC50 (35.2; 6.1; 18.8; 42.3; 3.3; 1.5; dan 23.6 mikromolar). Nilai IC50 adalah nilai yang menunjukkan kemampuan peptida menghambat 50 persen aktivitas ACE.
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh ACE. ACE memegang peranan fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi hati, yang oleh hormon renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I (dekapeptida yang tidak aktif). Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II (oktapeptida yang sangat aktif). Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis) sehingga urin menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkan, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian instraseluler. Akibatnya volume darah meningkat sehingga meningkatkan tekanan darah.
Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang berperan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
Beberapa peptida yang diidentifikasi dari wakame dapat berperan sebagai penurun tekanan darah, melalui aksi penghambatan aktivitas ACE. Dengan adanya peptida yang bersifat sebagai penghambat ACE (ACE inhibitor), maka aktivitas ACE dalam mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II akan terganggu, sehingga tekanan darah dapat diturunkan.