ALGINAT ALA PETANI DESA KARANGANYAR
Alginat yang merupakan bahan pewarna kain (batik) dan selama ini diimpor, ternyata bisa diproduksi sendiri. Wachidin Widjaya bersama rekan-rekannya di Desa Karanganyar, Pekalongan, telah menemukan satu formula alginat tersebut.
Alginat ini berbahan baku rumput laut, spesies
Sargassum yang berwarna kecoklatan yang bisa diolah, dicampur dengan bahan rempah-rempah dan beberapa campuran lainnya. Melalui mesin yang sederhana karya petani Karanganyar, dalam waktu 12 jam alginat produk lokal dan berbahan baku lokal sudah siap dipasarkan.
Kualitas tidak kalah dengan produk impor, harga juga jauh lebih murah. Bisa menghemat sampai 40 persen jika dibandingkan dengan produk impor. Tak heran jika Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin), Adi Sasono belum lama ini menyempatkan diri bertandang ke Karanganyar untuk melihat sendiri produk ini. "Ini merupakan langkah awal untuk mengurangi ketergantungan impor," ucap Adi Sasono ketika berdialog dengan petani. Dia
menyatakan bangga dan optimistis, karya petani tersebut mempunyai prospek yang sangat besar ke depan.
Memang produksi alginat lokal ini masih sangat terbatas, oleh karenya diperlukan tambahan modal untuk pengembangan baik untuk penambahan mesin maupun membeli bahan baku. Jika alat atau mesin bisa disempurnakan maka produksi alginat juga akan meningkat.
"Temuan ini sangat berarti dan bisa menampung lapangan kerja yang selama ini menjadi peer pemerintah. Di samping itu produk ini sangat mungkin bisa dikembangkan, karena berbahan baku lokal. Karena bahan baku lokal, tidak tergantung dengan asing" ujar Adi Sasono.
Selama ini alginat diimpor dari Amerika Serikat, Prancis dan Tiongkok. Padahal, kebutuhan alginat Indonesia lebih dari 2.000 ton per tahun, dan akan terus meningkat.
Alginat yang berbahan dasar rumput laut spesies sargassum berwarna kecoklatan ini selain merupakan bahan pewarna kain (batik) juga dapat digunakan oleh industri tekstil.