
Kabar gembira itu datang dari Balai Besar Pengembangan dan Pengendalian Hasil Perikanan Jakarta pada 1996 lalu. Berita itu menyebutkan bahwa rumput laut tak hanya bisa diolah menjadi agar-agar dan minuman, tapi juga bisa dijadikan bahan dasar mi. Basyirun, salah satu pengolah rumput laut, pun gembira. Selama ini ia hanya tahu rumput laut itu hanya bisa digunakan untuk bahan minuman.
Dibandingkan mi berbahan tepung, mi berbahan rumput laut ini memiliki banyak keutamaan. Selain mengandung gizi tinggi, mi rumput laut ini mengandung banyak kalsium, serat, omega, dan yodium. "Yodium ini bisa mempercepat penyembuhan luka," Basyirun menjelaskan.
Mi berbahan rumput laut ini turut dipamerkan di Nusa Bahari Expo di Makassar. Ia dipercaya menjadi salah satu penghuni stan milik Balai Besar Pengembangan dan Pengendalian Hasil Perikanan. Pameran hasil-hasil laut dan olahannya ini berlangsung pada 9-12 Desember di Celebes Convention Center.
Menurut Basyirun, mi rumput laut juga lebih ekonomis dibandingkan mi biasa. Harganya terjangkau untuk semua lapisan masyarakat. Per kilogram, kata dia, harganya Rp 20 ribu. "Harganya mengikuti bahan baku. Kalau bahan baku naik, dia ikut naik," ujarnya.
Proses pembuatan mi rumput laut berjenis Eucheuma cottonii tak banyak berbeda dengan mi biasa. Rumput laut direndam, lalu dicuci hingga bersih berwarna keputihan. Untuk menghilangkan bau amis, rumput laut direndam lagi dengan campuran air, kapur sirih, tepung beras, dan jeruk nipis. Kemudian rumput direndam semalam.
Setelah ditiriskan, rumput laut dicacah dan dihaluskan dengan blender. Rumput laut yang telah halus siap dicampur dengan tepung sagu atau tepung ganyong.
Sayang, di Makassar produk olahan ini belum populer dikonsumsi. "Sejauh ini permintaan kebanyakan masih dari sekitar Jakarta," kata Basyirun.