
Sudah sejak lama di sepanjang pesisir Eropa, rumput laut jenis Ulva lactuca dianggap sebagai polutan lingkungan. Bagi pelaku pariwisata rumput laut inidinilaidapat mengganggu keindahan dan kenyamanan pusat-pusat wisata pantai. Karena itu, kemudian tim dari Eureka! melalui proyek bernama E! 3025 Monalisa yang didanai Uni Eropa, pada 2002, berupaya untuk membersihkan rumput laut itu dari pusat-pusat pariwisata pantai.
Pada tahun yang sama, tim itu punmemutar otak untuk mengubah rumput laut itu jadi sesuatu yang bermanfaat. Denganmenggandeng Olmix, perusahaan nutrisi ternak asal Perancis yang menguasai aplikasi nanoteknologi, akhirnya mereka berhasil memanfaatkan rumput laut itu menjadi substansi penting dalam memodifikasi montmorillonite. Montmorillonite adalah mineral clay (tanah liat/pekat) yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetik dan produk nutrisi ternak.
Terkait produk nutrisi ternak, Chief Representative Officer Olmix Indonesia,Guy Jaeckelmenjelaskan, dengan mengaplikasikan nanoteknologi, biopolimer dari ekstrak rumput laut itu digabungkan dengan montmorillonite menjadi material hibrid natural sebagai mycotoxin binder (pengikat mikotoksin). ”Biopolimer dari ekstrak rumput laut itu membuat montmorillonite jadi 10 kali lebih efisien dalam mengikat berbagai mikotoksin yang ada pada bahan baku pakan dan pakan jadi,” katanya.
Uji Efikasi
Untuk membuktikan efikasi Amadeite, Olmix lalu bekerjasama dengan sebuah laboratorium biokimia di Belanda, TNO namanya. Penelitian dilakukan dengan membandingkan daya ikat Amadeite dengan karbon aktif, yaitu bahan yang juga banyak digunakan sebagai mycotoxin binder, terhadap pakan yang dikontaminasikan dengan 2 mg/kg mikotoksin jenis deoxynivalenol (DON) dan fumonisin.
Hasilnya, Amadeite level(penggunaan)0,01 % mampu menghambat bioaksesibilitas fumonisin sekitar 50 % dan DON sekitar 40 % pada level 0,1 %. Sedangkan karbon aktif, mampu menghambat bioaksesibilitas DON sekitar 40 % tapi pada level 2 %.
Dari penelitian itu Guy menambahkan, daya ikat Amadeite tidak menghambat pencernaan protein dan karbohidrat. Ini ditunjukkan dengan bioaksesibilitas nitrogen dan glukosa yang tak mengalami perubahan. ”Selain itu, Amadeite level 0,1 % dapat meningkatkan bioaksesibilitas vitamin B1 sebesar 30 % dan tidak merubah bioaksesibilitas vitamin B2,” katanya.
Selain kedua jenis mikotoksin itu, Amadeite dapat mengikat endotoksin dan jenis mikotoksin lain seperti aflatoxin, ochratoxin, trichothecenes,dan zearalenone.“Ekstrak rumput laut yang digunakan (ulvan) dapat menstabilkan mikroflora usus sehingga viskositas pencernaan lebih baik,”imbuh Guy.