
Pasta gigi adalah campuran bahan kimia tertentu berbentuk pasta yang digunakan bersama-sama sikat gigi untuk membantu membersihkan permukaan gigi tanpa merusak membran mukosa dari mulut. Salah satu syarat pasta gigi adalah memiliki tekstur yang lentur dan lembut dalam bentuk gel agar dapat berfungsi secara optimum dimana yang sangat berperan dalam hal ini adalah jenis pengental yang digunakan.
Na-CMC digunakan sebagai bahan pengental pasta gigi akan tetapi harganya mahal dan proses pembuatannya susah, sehingga dalam hal ini kami tertarik untuk memanfaatkan karaginan yang memiliki kesamaan sifat dengan Na-CMC yaitu sebagai bahan pengental. Karaginan diproduksi dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii dimana hidrokoloid (koloid hidrofil) rumput laut jenis ini memiliki sifat-sifat yang relatif lembut dan baik digunakan sebagai bahan pasta gigi karena memiliki kemampuan yang unik dalam membentuk gel berstruktur pendek yang sesuai untuk pasta gigi. Dengan kemampuannya itu karaginan menjadi bahan pengganti Na-CMC dalam pasta gigi karena lebih mudah diperoleh dan lebih ekonomis.
Eucheuma cottonii merupakan rumput laut dari suku Rhodophyceae. Suku Rhodophyceae memiliki jenis spesies yang lain seperti Glacilaria, Gelidium, Chondrus, Gigartina, dan Fulcelaria. Selain Rhodophyceae, terdapat tiga suku yang lain yaitu Clorophyceae (alga hijau), Phaeophyceae (alga cokelat), dan Cyanophyta (alga biru), namun diantara keempat suku tersebut, yang paling banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan karaginan di Indonesia hanyalah rumput laut dari suku Rhodophyceae.
Produk olahan dari rumput laut yang tumbuh di Indonesia banyak digunakan oleh kalangan industri mulai dari kosmetik hingga farmasi termasuk bahan pendukung pada pembuatan pasta gigi, akan tetapi produk olahan ini lebih banyak diimpor terutama dari Fhilipina.
Melihat tingginya kebutuhan produk olahan rumput laut di kalangan industri Indonesia dan tingginya nilai ekspor Fhilipina, maka akan sangat bermanfaat jika rumput laut diolah sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor produk olahan yang nantinya akan memberikan devisa bagi negara.