
Ambon: Balai Riset dan Standarisasi Industri (Baristand) Ambon akan mengembangkan penelitian pengolahan rumput laut menjadi etanol yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti bahan bakar.
"Tahun lalu, kami sudah melakukan penelitian pengolahan rumput laut menjadi etanol sebagai alternatif pengganti bahan bakar. Hanya saja kemurnian bio etanolnya baru 50 persen," kata Peneliti Bidang Industri Pengolahan Hasil Perikanan Baristand, BRI Puturuhu kepada ANTARA di Ambon, Kamis.
Puturuhu mengatakan, agar dapat menjadi alternatif pengganti bahan bakar, maka bio etanol yang dicapai harus 99 persen.
Dia berancana tahun ini akan melanjutkan penelitian tersebut agar hasil yang diperoleh bisa diterapkan pada tahun depan.
Selain pengolahannya sebagai bahan bakar alternatif, rumput laut juga sudah dibuat menjadi potongan-potongan tipis yang berukuran 10 - 12 cm yang disebut "chips" dan produk pangan baik minuman maupun makanan.
Ada pula keraginan, yakni senyawa polisakarida yang tersusun dari unit D-galaktosa dan L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan satu hingga empat glikosilik. Ciri khasnya, setiap unit galaktosanya mengikat gugusan sulfat. Jumlah sulfatnya berkisar 35,1 persen.
Kegunaan keraginan hampir sama dengan agar - agar, antara lain sebagai pengatur keseimbangan, pengental, pembentuk gel, dan pengemulsi.
Puturuhu berharap, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku bisa memanfaatkan hasil riset tersebut untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama yang hidup di pedesaan dan pesisir pantai.
"Mestinya pemprov mencari jalan keluar agar dapat mamanfaatkan hasil riset itu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Galakanlah pertumbuhan industri di pedesaan," imbaunya.
Dia juga meminta agar pemprov mengadakan pameran-pameran pembangunan seperti yang pernah dilakukan pada era 1990-an sehingga hasil-hasil riset bisa diketahui secara luas.