
PANGKALPINANG - Universitas Bangka Belitung (UBB) tahun ini berhasil meluluskan 1 kelompok mahasiswa kreatif untuk mengkuti Pekan Ilmiah Mahasiswa tingkat Nasional (Pimnas) 2013 yang diselenggarakan di Universitas Mataram pada pertengahan September ini. Pimnas sendiri merupakan salah ajang pertarungan kreatifitas mahasiswa se-Indonesia.
Dosen Pembimbing perwakilan kelompok mahasiswa PKM UBB di Pimnas Mataram 2013, Ardiansyah Kurniawan memaparkan, kelompok mahasiswa UBB yang berhasil lolos melalui saringan dan seleksi Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) pada 5 bidang yaitu PKM penelitian, PKM kewirausahaan, PKM pengabdian masyarakat, PKM teknologi terapan, dan PMK karya cipta yang dimulai dari seleksi proposal, pelaksanaan program dan presentasi hasil sekaligus seleksi PIMNAS.
Dari ke-8 kelompok yang diutus tersebut telah dilakukan presentasi pelaksanaan PKM sekaligus seleksi Pimnas di Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang akhir Juli lalu, UBB berhasil meluluskan 1 kelompok PKM untuk kewirausahaan yang bertemakan pemanfaatan rumput laut di Babel untuk sabun herbal dalam Pimnas.
"Tahun ini UBB wakilkan 8 kelompok mahasiswa kreatif dalam PKM yakni, 2 kelompok untuk penelitian, 4 kelompok untuk kewirausahaan dan 2 kelompok pengabdian kepada masyarakat. Namun hanya 1 kelompok yang lolos seleksi dan berhak bersaing dalam Pimnas yang menjadi impian mahasiswa-mahasiswa Indonesia untuk menunjukkan aktualisasi sebagai mahasiswa kreatif," jelasnya melalui rilis kepada Radar Bangka, Jumat kemarin (6/9).
Ia menambahkan, kelompok ini digawangi Haris Apriyanto, Siti Zahara, Eka Febriandi dan Awwab Hafizh, dimana masing-masing mahasiswa ini masih duduk di semester III tapi mampu menunjukkan bahwa mahasiswa dari Babel memiliki kreatifitas tinggi dan tidak kalah dengan mahasiswa di universitas lain yang lebih tua. Kreatifitas dan kemampuan mereka dinilai positif oleh tim juri dari Direktorat Pendidikan Tinggi dan layak bersaing dalam Pimnas 2013 di Mataram.
"Sabun rumput laut yang dihasilkan mahasiswa UBB ini diawali dari banyaknya rumput laut alami di pantai-pantai kepulauan Bangka Belitung yang tidak dimanfaatkan optimal. Produk makanan yang biasa dibuat masyarakat pesisir seperti dodol dan kue belum terlalu diminati konsumen," urai Ardiansyah.
Maka berinisiatiflah Haris yang berasal dari Selat Nasik, Belitung dan kawan-kawan ini mencari produk yang bisa menjadi oleh-oleh, tidak mudah rusak atau basi dan selalu dibutuhkan berbahan rumput laut yang mudah didapatkan.
"Dipilihlah produk sabun rumput laut yang merupakan produk unik, belum banyak dikembangkan dan dibutuhkan hotel serta penginapan yang tersebar di destinasi wisata kepulauan Bangka Belitung. Produk ini juga dapat menjadi oleh-oleh khas daerah kita sendiri untuk melengkapi produk khas yang telah ada sebelumnya," imbuh dia.