
Pada zaman yang serba canggih sekarang ini dan mobilitas yang semakin tinggi, tentu konsumsi energi semakin meningkat, namun persediaan energi khususnya energi berbahan baku fosil semakin menipis. Persediaan minyak bumi dan batu bara sangat terbatas dan memerlukan waktu jutaan tahun untuk kembali terbentuk.
Jika dihitung, ketersediaan energi yang ada, dengan rata-rata produksi saat ini, maka diperkirakan minyak bumi hanya mampu bertahan sekitar 24 tahun, gas hanya cukup bertahan sampai 59 tahun. Sementara itu, batu bara berkisar 93 tahun. Selain jumlahnya yang sangat terbatas, penggunaan bahan bakar fosil juga berdampak buruk bagi lingkungan karena dapat menimbulkan polusi udara. Oleh karena itu perlu adanya suatu energi alternatif terbarukan serta ramah lingkungan sehingga dapat mengatasi dua masalah sekaligus yaitu penyediaan sumber energi dan permasalahan pemanasan global.
Salah satu sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan yang sangat prospektif yaitu berbahan baku rumput laut. Rumput laut dapat diolah menjadi bioethanol. Caulerpa serrulata dan Gracilaria verrucosa merupakan spesies rumput laut yang dapat menghasilkan bioetanol. Jenis ini memiliki kandungan selulosa yang dapat dihidrolisis menjadi glukosa yang selanjutnya dapat diubah menjadi bioetanol.
Maka dari itu, kini pemerintah menggalakkan budidaya rumput laut besar-besaran sejak tahun 2010. Payung hukum budi daya rumput laut menjadi sumber energi adalah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi yang mengamanatkan pemerintah wajib menyediakan energi terbaru dan terbarukan sebagai bagian dari diversifikasi energi.
Proses pembuatan ethanol dari rumput laut melalui tiga tahapan, yaitu :
1. Persiapan bahan baku
Dalam tahap ini pati yang berupa selulosa akan dihidrolisis menjadi glukosa.
2. Fermentasi
Pada tahap ini, glukosa yang dihasilkan dari proses hidrolisis kamudian difermentasikan sehingga menghasilkan ethanol (C2H5OH) dan CO2.
3.Distilasi
Tahap ketiga yaitu pemurnian hasil dengan cara distilasi. Sebelum distilasi, perlu dilakukan pemisahan antara padatan dengan cairan, untuk menghindari terjadinya penyumbatan selama proses distilasi. Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dengan air. Titik didih etanol murni adalah 78°C sedangkan air adalah 100°C untuk kondisi standar. Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78° - 100°C akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95% volume.
Rumput laut sebagai bahan bakar nabati alternatif memiliki banyak keuntungan bila dibandingkan dengan jenis komoditas lainnya, yaitu :
1. Ketersediaan lahan budidaya
Keuntungan mengembangkan energi berbahan baku rumput laut yaitu, proses pembudidayaan rumput laut tidak mengurangi lahan pertanian pangan karena tidak memerlukan lahan darat. Selain itu, ketersediaan lahan budidaya rumput laut lebih luas dari pada komoditas lain seperti tebu, jagung jarak dan lain sebagainya. Indonesia sebagai Negara kepulauan yang daerahnya terdiri dari 2/3 lautan dan memiliki panjang pantai sekitar 81.000 km memiliki potensi besar untuk membudidayakan rumput laut. Indonesia memiliki luas area untuk kegiatan budidaya rumput laut seluas 1.110.900 ha, tetapi pengembangan budidaya rumput laut baru memanfaatkan lahan seluas 222.180 ha sekitar 20% dari luas areal potensial.
2. Waktu panen relatif lebih singkat
Budi daya rumput laut cukup bermodalkan tali memanjang sebagai pengikat bibit, kemudian rumput laut dapat dipanen antara 45 hari sampai 3 bulan setelah disemai. Masa panen rata-rata rumput laut adalah dua bulan, sehingga dapat dipanen 6-7 kali dalam satu tahun.
3. Dapat memproduksi bioethanol yang lebih banyak
Rumput laut sebagai biodiesel dinilai lebih kompetitif dibandingkan komoditas lainnya. 1 hektar lahan rumput laut dapat menghasilkan 58.700 liter (30% minyak) pertahunnya, jumlah tersebut sangat besar dibandingkan jagung yang menghasilkan 172 liter/tahun dan kelapa sawit yang menghasilkan 5.900 liter/tahun.
4. Lebih ekonomis
Biaya produksi bioetanol dari rumput laut lebih murah dibanding dari komoditas lain yang mengandung lignin kayu sehingga proses pengolahannya tidak dibebankan oleh penanganan pendahuluan proses. Sehingga proses pengolahan yang lebih mudah dan biaya pun dapat lebih murah. Hal ini juga berimbas pada harga pemasaran Bahan Bakar Nabati rumput laut yang berpotensi bisa lebih murah dibandingkan yang lain.
Sebuah peluang besar pengembangan energi alternatif di masa depan yang dimiliki oleh Bangsa ini. Sebuah peluang untuk lepas dari ketergantungan sumber energi fosil yang pasti habis dan tak terbarukan. Penemuan sumber energi terbarukan bioethanol rumput laut ini diharapkan secara bertahap dapat menghentikan ketergantungan konsumen Indonesia khususnya terhadap bahan bakar fosil serta dapat pula menjadi salah satu solusi dari isu pemanasan global sekarang ini.