
Potensi pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia sangat besar karena lahan yang sesuai tersedia sangat luas, keanekaragaman jenis rumput lautnya tinggi, teknologi budidayanya sederhana dan modal yang dibutuhkan relatif kecil. Namun saat ini usaha budidaya rumput laut menghadapi kendala serius akibat serangan penyakit ice-ice.
Penyakit rumput laut didefinisikan sebagai terganggunya struktur dan fungsi yang normal, seperti terjadinya perubahan laju pertumbuhan, penampakkan (warna dan bentuk), serta akhirnya berpengaruh terhadap tingkat produktivitas (Andrews 1976 dalam Aji, 1992). Ice-ice diketahui pertama kali menginfeksi Eucheuma di Philipina pada tahun 1974 (Aji 1992; Sulistiyo, 1988), merupakan penyakit yang banyak menyerang rumput laut pada saat musim hujan (Oktober-April) (Doty, 1975; Doty 1979; Mintardjo, 1990). Ice-ice merupakan penyakit dengan tingkat infeksi cukup tinggi di negara Asia penghasil Eucheuma (Philips, 1990).
Penyakit ini merupakan efek bertambah tuanya rumput laut (Doty, 1979; Trono, 1990) dan kekurangan nutrisi (Kaas and Perez, 1990), ditandai dengan timbulnya bintik/bercak-bercak merah pada sebagian thallus yang lama kelamaan menjadi kuning pucat dan akhirnya berangsur-angsur menjadi putih dan akhirnya menjadi hancur atau rontok (Aditya dan Ruslan, 2003; Aji dan Murdjani, 1986; Imardjono et al.,1989; Trensongrusmee dkk., 1986; Runtuboy, 2004). Ice-ice dapat menyebabkan thallus menjadi rapuh dan mudah putus. Gejala yang diperlihatkan adalah pertumbuhan yang lambat, terjadinya perubahan warna menjadi pucat dan pada beberapa cabang thallus menjadi putih dan membusuk. Stress yang diakibatkan perubahan kondisi lingkungan yang mendadak seperti: perubahan salinitas, suhu air dan intensitas cahaya, merupakan faktor utama yang memacu timbulnya penyakit ice-ice.
Ketika rumput laut mengalami stress karena rendahnya salinitas, suhu, pergerakan air dan instensitas cahaya, akan memudahkan infeksi patogen (Imardjono et al.,1989; Hurtado and Agbayani, 2000; Mintardjo, 1990; Kaas and Perez, 1990). Dalam keadaan stress, rumput laut (misalnya: Gracilaria, Eucheuma atau Kappaphycus) akan membebaskan substansi organik yang menyebabkan thallus berlendir dan diduga merangsang banyak bakteri tumbuh di sekitarnya (Trono, 1974; Aji dan Murdjani, 1986; Kaas and Perez, 1990; Uyenco et al.,1981 ). Laminaria juga terinfeksi penyakit yang mirip ice-ice disebabkan karena tinggi Hidrogen Sulfida (H2S) yang diproduksi oleh bakteri saprofit (Wu et al.,1976 dalam Yuan, 1990). Kejadian penyakit ice-ice bersifat musiman dan menular. Bakteri yang dapat diisolasi dari rumput laut dengan gejala ice-ice antara lain adalah Pseudomonas spp., Pseudoalteromonas gracilis, dan Vibrio spp. Agarase (arginase) dari bakteri merupakan salah satu faktor virulen yang berperan terhadap infeksi ice-ice (Yuan, 1990).
Faktor-faktor predisposisi atau pemicu lainnya juga dapat menyebabkan ice-ice. Predisposisi itu antara lain serangan hama seperti ikan baronang (Siganus spp.), penyu hijau (Chelonia midas), bulu babi (Diadema sp.) dan bintang laut (Protoneostes) yang menyebabkan terjadinya luka pada thallus. Luka akan memicu terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri. Pertumbuhan bakteri pada thallus akan menyebabkan bagian thallus tersebut menjadi putih dan rapuh. Selanjutnya, pada bagian tersebut mudah patah dan jaringan menjadi lunak. Infeksi ice-ice menyerang pada pangkal thallus, batang dan ujung thallus muda, menyebabkan jaringan menjadi berwarna putih. Pada umumnya penyebarannya secara vertikal (dari bibit) atau horizontal melalui perantara air. Infeksi akan bertambah berat akibat serangan epifit yang menghalangi penetrasi sinar matahari karena thallus rumput laut tidak dapat melakukan fotosintesa.
Mengingat penyakit tersebut sangat merugikan, sehingga perlu dilakukan upaya-upaya agar penyakit ice-ice dapat segera diatasi. Salah satunya adalah dengan penerapan Standar Operating Procedure (SOP) secara benar dan konsisten dalam kegiatan budidaya rumput laut.
Budidaya Rumput Laut dengan Standar Operating Procedure (SOP)
Serangan penyakit ice-ice harus dapat dicegah, agar kerugian dapat terkurangi. Untuk itu perlu diterapkan langkah-langkah kongkret dalam pencegahan penyakit tersebut. Serangan penyakit dapat dicegah dengan penerapan standar baku dalam kegiatan budidaya rumput laut atau dikenal dengan Standar Operating Procedure (SOP) yang terdiri dari tiga tahap kegiatan, yaitu:
SOP 1: Penentuan Lokasi Budidaya Rumput Laut
Parameter penting yang harus diperhatikan dalam penentuan lokasi dalam budidaya rumput laut antara lain:
- Suhu 20-28 oC, kecepatan arus 20-40 cm/detik.
- Dasar perairan berupa karang dan substrat berpasir .
- Kedalaman air minimal 2 meter saat air surut terendah dan maksimum 15 meter.
- Salinitas berkisar 28 - 35 ppt dengan nilai optimum adalah 33 ppt.
- Kecerahan tinggi, sehingga sinar matahari dapat mencapai rumput laut.
- Lokasi bebas dari cemaran terutama minyak dan sampah organik.
SOP 2 : Pemilihan Bibit Rumput Laut yang Berkualitas
Kualitas bibit rumput laut sangat menentukan produktivitas, kualitas produk dan ketahanan terhadap penyakit ice-ice. Penggunaan bibit unggul merupakan cara yang sangat penting untuk pengendalian penyakit ice-ice. Philiphina telah memiliki bibit unggul, yaitu Kappaphycus striatum galur saccol yang tahan terhadap ice-ice. Desinfeksi bibit juga perlu dilakukan untuk meniadakan bakteri oportunistik yang dapat dilakukan dengan cara bibit rumput laut direndam dalam larutan PK (Potasium Permanganat) dosis 20 ppm. Beberapa butir SOP untuk penyediaan bibit rumput laut yang berkualitas :
- Bibit sebaiknya dipilih dari tanaman yang tumbuh baik, masih segar, tidak ada bercak-bercak, berwarna homogen serta tidak mudah patah.
- Bibit diperoleh dari tanaman rumput laut yang tumbuh secara alami maupun dari tanaman hasil budidaya.
- Bibit sebaiknya dikumpulkan dari perairan pantai sekitar lokasi usaha budidaya dan jumlahnya sesuai dengan luas area budidaya.
- Pada saat pengangkutan diupayakan agar bibit tetap terendam di dalam air laut. Apabila pengangkutan dilakukan melalui udara dan darat, sebaiknya bibit dimasukan ke dalam
kotak karton yang dilapisi plastik. Kemudian bibit disusun secara berlapis dan berselang-seling dan dibatasi dengan lapisan kapas atau kain yang dibasahi air laut.
- Bibit dijaga agar tidak terkena minyak, air hujan, serta kekeringan.
- Dalam menjaga kontinuitas produksi rumput laut sebaiknya harus dilakukan pergantian bibit.
SOP 3 : Penerapan Teknologi Budidaya Rumput Laut
Teknik budidaya rumput laut yang digunakan disesuaikan dengan kondisi lingkungan perairan. Pada perairan yang relatif tenang, metode budidaya rakit, long line, dan pancang dapat diterapkan. Pada perairan yang bergelombang besar metode budidaya yang tepat adalah metode kantong (metode Cidaun). Pembersihan terhadap kotoran yang melekat pada thallus dan biofouling harus dilakukan secara rutin. Pembersihan dilakukan sesering mungkin (sebaiknya setiap hari) dengan cara digoyang di dalam air sampai kotoran lepas. Penanaman rumput laut untuk metode rakit, long line dan pancang sebaiknya dilakukan bukan pada musim gelombang. Untuk lokasi di pantai barat sebuah pulau penanaman sebaiknya dilakukan pada musim angin timur. Sebaliknya untuk lokasi di pantai timur sebuah pulau penanaman dilakukan pada musim angin barat. Penanaman rumput laut dengan metode kantong dapat dilakukan sepanjang tahun dan tidak dipengaruhi oleh musim. Pada saat bukan musim tanam, sebaiknya dilakukan penanaman rumput laut untuk penyediaan bibit rumput laut yang berkualitas.
Dengan penerapan SOP ini diharapkan tingkat kerugian ekonomi akibat penyakit ice-ice dapat diminimalkan.