
Balai Besar Industri Kerajinan dan Batik yogyakarta telah melakukan penelitian terhadap jenis rumput laut yang kurang mempunyai nilai ekonomi. “Rumput laut jenis sargassum ini kurang dimanfaatkan untuk produk makanan, pada hal stok alami masih cukup tersedia”, kata Farida yang meneliti rumput laut ini. Hal ini, lanjutnya, merupakan kekayaan alam yang tiada ternilai dan merupakan sumber daya alam laut yang terebar di seluruh Indonesia terutama di daerah rataan terumbu karang di semua wilayah perairan pantai. Sargassum tidak berkembang secara vegetatif.
Sumber daya alam ini merupakan bahan baku terbarukan dapat dipakai sebagai zat warna alam. Salah satu jenisnya yaitu rumput laut coklat Sargassum yang menghasilkan warna coklat keemasan dan jenis lainnya turbinaria menghasilkan warna coklat kehijauan, ini semua potensial dimanfaatkan sebagai zat warna alam. Dari hasil pengujian ketahanan luntur menunjukkan nilai baik.
Dari segi ekonomi, margin dapat diketahui setelah dihitung dengan analisis biaya kuantita dan laba sebesar 41,6%. Tidak dikira bahwa warna ini disukai oleh sebagian pencinta batik. “Bahkan ada kelompok pecinta batik yang sudah memesan batik dengan warna dari rumput laut ini”, papar Farida.
Keunggulan Hasil Litbang
Keunngulan dari penelitian zat warna alam rumput laut pada kain sutera dan katun dengan proses batik dan tritik jumputan ini adalah belum dilakukan oleh peneliti lain. Zat pengekstrak menggunakan alkali kuat dan lemah dengan proses perendaman. Bahan baku yang digunakan sutera, katun dan SANT (Serat Alam Non Tekstil). Dalam proses pewarnaan tidak menggunakan bahan yang bersifat karsinogen (seperti garam naftol). “Kalau menggunakan zat warna ini jatuhnya lebih murah, laba bisa mencapai 41,6%”, kata Farida
Sebelumnya penelitian yang serupa telah dilakukan oleh Balai Besar Tekstil yang meneliti zat warna rumput laut jenis Sargassum untuk tekstil. Dengan menilai kualitas manuronat dan guluronat yang berpengaruh pada hasil Natrium Alginat sebagai pengental untuk proses printing. Cara ekstraksinya berbeda dengan yang dilakukan oleh Balai Besar Tekstil. BBKB menggunakan NaOH dan Na2CO3, etanol dengan proses centrifuse, kerja iring dan tidak menggunakan garam naftol. Beda yang lain adalah bahwa pewarnaan pada tekstil tidak melalui proses pelorodan seperti halnya batik.
Hasil Pewarnaan
Hasil pewarnaan pada kain katun (produk tritik jumputan) dan sutera (batik) mempunyai kemampuan daya serap yang baik. Namun untuk batik mengalami degradasi warna. Hal ini diebabkan karena penggunaan Na2CO3 pada proses pelorodan yang menyebabkan zat warna alam rusak dan luntur. Zat kerja iring yang digunakan adalah tawas, kapur dan tunjung. Warna yang dihasilkan dari rumput laut jenis Sargassum adalah coklat keemasan pada kain sutera dengan kerja iring tawas-kapur dan warna coklat kehijauan pada katun dengan kerja iring tunjung. Adapun warna coklat paling tua berasal dari rumput laut turbinaria dengan kerja iring tunjung.
Metode ekstraksi memakai tiga jenis pelarut (alkali, etanol, air dan Na2CO3). Menggunakan bahan baku katun dan sutera. Dari hasil ekstraksi didapatkan pelarut yang paling efektif untuk pewarna kain katun dan sutera yaitu kombinasi larutan NaOH dan larutan Na2CO3 dengan peremdaman dan pemanasan.
Dari hasil pengujian didapatkan ketahanan luntur warna terhadap pencucian bernilai baik. Untuk kain katun menunjukkan hasil rata-rata 4-5, sedangkan untuk sutera menunjukkan hasil rata-rata 4-5. Untuk kedepannya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai lilin batik untuk zat warna alam yang berasal dari jenis daun-daunan, kulit buah termasuk tanaman rumput laut.