
Ambon, Tribun-Maluku.com : Balai Konservasi Biota Laut (BKBL) LIPI Ambon akan merekayasa media tangkap untuk pembudidayaan Alga Merah jenis Porphira di Pulau Ambon.
"Pelaksanaannya pada Februari hingga Agustus ini, kami akan mencoba merekayasa media yang cocok untuk tempat tumbuh Porphira di sini," kata Ferdinand Pattipeilohy, Peneliti Rumput Laut BKBL LIPI Ambon, Rabu (29/1).
Ia menjelaskan Porphira adalah jenis rumput laut yang pembudidayaannya terbilang masih langka di Indonesia, karena tanaman ini hanya dapat tumbuh di pantai berbatu cadas, terjal dan berombak besar.
Dengan kondisi habitat hidup yang riskan, maka media bantu sebagai tempat tumbuh Porphira sangat dibutuhkan, hal tersebut dimaksudkan agar nantinya dapat memudahkan masyarakat membudidayakan dan memanennya.
LIPI sendiri akan mencoba beberapa media rekayasa seperti asbes gelombang, asbes karang, dan lainnya untuk menumbuhkan rumput laut, yang oleh masyarakat Jepang disebut Nori tersebut.
"Porphira belum terlalu umum di Indonesia. Tanaman ini hanya bisa tumbuh di dinding-dinding karang yang berhadapan langsung dengan ombak besar, proses tumbuhnya memakan waktu enam hingga delapan bulan," ucapnya.
Menurut Ferdinand, untuk Ambon, kondisi alam di Desa Tengah-Tengah (Kecamatan Salahutu) dan Hukurila (Kecamatan Leitimur Selatan) dinilai sangat berpotensi untuk pembudidayaan Porphira.
"Kondisi alam dan pantai Tengah-Tengah dan Hukurila sangat cocok, kedua desa ini akan kami jadikan daerah percontohan pembudidayaan Porphira," ucapnya.
Ia menambahkan, dibandingkan rumput laut jenis lainnya yang sebelumnya telah dibudidayakan di Maluku, seperti Cottonii, Gracilaria dan Hypnea, Porphira memiliki nilai jual dua kali lipat lebih tinggi.
"Harganya sekarang mencapai Rp200 ribu/kg, ini sangat baik sekali untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat kita," katanya.