
Rumput laut sebagai sumber alternatif energi merupakan hal baru yang harus didukung dan dikembangkan. Mikro alga sebagai biodisel dinilai lebih kompetitif dibandingkan komoditas lainnya. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut,Sejak dua tahun lalu, Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar) melalui Lembaga Penelitian (Lemlit (Umpar) berkolaborasi dengan PT Bantimurung Indah di Kabupaten Jeneponto, bekerjasama dalam pengembangan budi daya rumput laut di Sulsel, hal ini dipicu oleh kebutuhan yang sangat besar tentang bio energi, ini mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan dan Sulsel tentunya dengan dikelilingi pantai yang luas dan panjang serta iklim hangat sepanjang tahun menyediakan potensi rumput laut yang besar Rektor Universitas MUhammadiyah Parepare (Umpar) Dr. Syarifuddin Yusuf, M.Si bersama ketua Lembaga Penelitian Umpar, Dr. Muh. Arsyad beserta ketua penelitiian Irmayani, Sp, M.Si dan Mahasiswa untuk kesekian kalinya berkunjung di PT Bantimurung Indah Seaweed Industries Kab. Maros, Senin 2 April lalu.
Untuk mengembangkan rumput laut sebagai salah satu potensi di daerah Sulsel, Umpar melalui penelitian dan riset akan melestarikan dan mengembangkan komoditi langka tersebut, namun keunggulan ekonomis yang bagus, sebab komoditi ini sangat dibutuhkan oleh negara-negara.” katanya. "Rektor Umpar berharap selanjutnya ada pertemuan-pertemuan berikut serta bisa terwujud kegiatan - kegiatan lainnya tentunya dalam pengembangan budidaya rumput laut didaerah sekitar Parepare, Pinrang, Barru." harap Dr. Syarifuddin Yusuf.
Menurut Syariffuddin Yusuf, pihaknya akan mengembangkan budidaya rumput laut di tiga daerah yang ada di kawasan Ajattapreng, yakni Kota Parepare, Kab. Pinrang dan Barru, dimana ketiga daerah tersebut di Sulsel dikenal juga sebagai daerah pesisir pantai yang nota bene jelas dan berpotensi dalam pengembangan rumput laut. " yah kita lihat saja nanti, bagaimana tim kami dari Umpar bersama PT Bantimurung Indah Seaweed Industries akan melakukan riset terhadap pengembangan budidaya dan pengelolaan rumput laut didaerah kita.
Syarifuddin melanjutkan, pelibatan pihak perguruan tinggi ini diperlukan untuk membantu penelitian bagaimana sistem pengelolaan rumput laut untuk meningkatkan produksi dan mampu mensejahterakan masyarakat karena semakin banyaknya industri akan lebih membuka lapangan pekerjaan. Dalam mengembangkan komoditi unggulan seperti rumput laut." Rektor mengatakan "bahwa bagaimana komoditi ini bisa diolah dan memiliki nilai tambah. “Teknologinya sudah ada, tinggal bagaimana menerapkannya untuk lebih banyak lagi,” Jelas Rektor dua periode.
Sementara itu, Umpar melalui ketua penelitian rumput laut ini, Irmayani menerangkan, bahwa rumput laut pantas menjadi komoditas utama dalam program revitalisasi perikanan, karena beberapa keunggulannya diantaranya, lapangan kerja semakin terbuka tentunya, peluang ekspor terbuka luas, belum adanya quota perdagangan yang banyak untuk penanganan rumput laut khusunya di daerah Sulsel dan yang paling enteng bahwa teknologi dan pembudidayaannya sederhana, sehingga mudah dikuasai dimana siklus pembudidayaannya relatif singkat yakni hanya 45 hari, sehingga cepat memberikan keuntungan; kebutuhan modal relatif kecil, merupakan komoditas yang tak tergantikan, karena tidak ada produk sintetisnya baik di pasar domestik, regional dan internasional. Olehnya itu, kerjasama yang apik antara peneliti (akademik) pemerintah dan stakeholder sangat dibutuhkan untuk mengembangkan rumput laut di Sulawesi Selatan agardihasilkan hasil panen yang berkualitaas dan berkuantitas dengan harga yang kompetitif." terang dosen peneliti muda ini.