
Jakarta, JMOL ** Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKKPII) mengadakan sharing mendalami Peningkatan Nilai Tambah Rumput Laut di Equity Tower, Jakarta, Jumat (23/5).
Acara yang didukung Supreme Energy ini dihadiri Menteri Kelautan dan Perikanan pertama Republik Indonesia, Sarwono Kusumaatmadja. Ia inisiator terselenggaranya diskusi mengenai rumput laut.
Rumput laut banyak bermanfaat dan dapat diolah menjadi apa saja. Sangat disayangkan apabila sebagai salah satu negara penghasil bahan baku rumput laut terbesar, Indonesia tidak dapat memaksimalkan pengelolaannya.
Berawal dari kesadaran tersebut, para insinyur teknik kimia duduk bersama dalam diskusi tersebut untuk serius membuat industri rumput laut, sehingga Indonesia bukan lagi menjual bahan baku rumput laut kering saja, tetapi menjadi hasil produk olahan bervariasi dan memiliki nilai tambah tinggi.
Dalam pemaparannya, Indroyono Soesilo, Director Fisheries and Aquaculture Department FAO, sebagai penggagas utama, diwakili Triharyo Indrawan Soesilo atau akrab disapa Hengki, menjelaskan bahwa rumput laut ada di segala makanan dan minuman. Bahkan di dunia farmasi dapat diolah menja/di lotion, pasta gigi, sabun, tablet, kapsul, hair cream, dan lainnya.
Sementara di industri menjadi bahan baku pupuk pengeboran, printing tekstil, pakan ternak, atau ikan, cat, dan sebagainya.
President Director of PT Rekayasa Industri, Triharyo Indrawan Soesilo, mengatakan, pembudidaya rumput laut di Indonesia cukup banyak, tetapi industri yang ada di Indonesia masih sangat sederhana.
“Pengelolaan rumput laut di Indonesia belum mendapat sentuhan industri dengan teknologi,” ujarnya.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli), Thomas Ferdinand, menginginkan Indonesia menjadi raja rumput laut di dunia, bukan menjadi kuli yang diperintah-perintah. Industri dan pemerintah harus sinkron supaya Indonesia tidak tertinggal lagi.
“Membuat penelitian yang bisa bersaing. Negara bisa kaya itu karena otak,” tandasnya.
Perlu diketahui, belum lama ini, tepatnya 28 Februari 2014, berdiri Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli) dideklarasikan Wakil Menteri perindustrian, Alex W. Retraubun.