
Seorang nelayan tampak khusuk di bibir laut. Saat dihampiri ternyata ia sedang mengikat rumput laut pada seutas tali nilon. Tujuannya untuk budidaya rumput laut. Rumput laut tersebut tampak hijau dan segar. Rumput laut dijemur di atas bangku panjang yang terbuat dari bambu, dan digantung berderet panjang pada tiang-tiang.
Menurut pengakuan sang petani, Eduard Lado namanya, dalam sebulan ia bisa memanen rumput laut paling sedikit setengah ton, dengan harga jual perkilonya sebesar 7 ribu rupiah. Harga yang sudah dipatok oleh pemerintah daerah Sabu.
Siang itu, sekitar pukul 11.00 WITA, panas matahari begitu menyengat kulit. Puluhan petani rumput laut sibuk menjemur dan membalikkan posisi rumput laut hasil panen agar keringnya merata. Mereka bergerak cepat mengejar sinar matahari yang menyengat. Masing-masing memperhatikan kondisi rumput laut agar tidak berada pada posisi teduh.
Eduard mengatakan, budidaya rumput laut secara besar-besaran dimulai sejak 2010 setelah Sabu Raijua memiliki pemerintahan definitif. Sebelumnya, kepala daerah di Sabu Raijua dijabat oleh pejabat bupati. Sabu Raijua dimekarkan pada 2008, pisah dari kabupaten induk, Kupang.
Sebelum itu, petani sebenarnya telah mengembangkan rumput laut, tetapi hanya di beberapa titik di desa itu. Kini, banyak desa-desa di Sabu menjadi sentra penghasil rumput laut.
Dalam membudidayakan rumput laut, kebanyakan petani menggunakan metode rakit apung, sebagian lainnya menggunakan metode lepas dasar dan tali pangang (long line). Metode budidaya ini tergantung dari kondisi geografis pantai, air pasang/surut, dan gelombang laut. Hampir semua pantai di Sabu Raijua dapat dijadikan sebagai tempat pembudidayaan rumput laut, selain tambak garam.
Pabrik Rumput Laut, Angin Segar Bagi Petani
Tidak seperti pada kabupaten-kabupaten lain di NTT, rumput laut yang dipanen warga berlimpah, tetapi para petani kesulitan dalam memasarkan hasil panenannya. Mau dijual ke mana? Soal ini terjawab di Sabu, yakni dengan adanya pabrik pengolahan rumput laut.
Pabrik ini terdapat di Kelurahan Laemaggu, Kecamatan Sabu Timur, dekat dengan Pelabuhan Biu. Pabrik yang diresmikan oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya ini bisa memproduksi 10 ton rumput laut kering per harinya.
Paling tidak 30 desa di Sabu Raijua merupakan desa potensial untuk budidaya rumput laut. Pabrik rumput laut di Sabu Raijua akan menghasilkan berbagai jenis makanan dan minuman dari rumput laut, antara lain dodol, sirup, pilus, kerupuk, dan bahan kosmetik.
Dengan adanya pabrik rumput laut ini harga jual rumput laut akan menguntungkan petani karena tidak akan dipermainkan sesuka hati oleh para pedagang atau pengumpul. Adanya pabrik rumput laut ini juga membuka lapangan kerja baru di Sabu dan memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah.
“Pendapatan daerah dari rumput laut melalui pengiriman ke luar pulau untuk tahun 2015 sebesar 1,4 miliar. Untuk tahun 2016 ini dengan dibangunnya pabrik pengolahan rumput laut sampai dengan bulan September sudah mencapai 1,2 miliar,” ujar Efer Uli, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kabupaten Sabu Raijua.