
Diversifikasi produk olahan perikanan kini menjadi fokus penting dalam meningkatkan nilai tambah rumput laut di Indonesia. Rumput laut jenis Eucheuma cottonii memiliki potensi nutrisi yang besar, namun pemanfaatannya saat ini masih terbatas pada produk tradisional. Penelitian ini mencoba menjembatani celah tersebut dengan mengintegrasikannya ke dalam komoditas yang sangat populer di masyarakat, yakni kopi.
Kopi sendiri merupakan salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia, termasuk di Indonesia. Penambahan rumput laut ke dalam kopi bertujuan untuk memperkaya profil gizi minuman tersebut, mengingat rumput laut kaya akan serat dan mineral. Untuk menutupi karakteristik aroma rumput laut yang mungkin kurang disukai, biji pala (Myristica fragrans Houtt) ditambahkan sebagai agen penambah aroma dan pemberi sensasi rasa yang khas.
Proses penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan berbagai variasi waktu penyangraian. Penyangraian merupakan tahapan krusial dalam pengolahan kopi yang menentukan aroma, rasa, dan karakteristik kimia akhir produk. Dalam studi ini, peneliti menguji efek waktu sangrai yang berbeda terhadap kualitas akhir bubuk kopi campuran tersebut.
Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa formulasi terbaik diperoleh melalui kombinasi 50% bubuk kopi, 10% bubuk rumput laut, dan 25% bubuk biji pala. Proporsi ini dianggap memberikan keseimbangan rasa yang paling ideal, di mana rasa pahit kopi tetap dominan namun diperkaya dengan sentuhan aroma rempah dari biji pala.
Mengenai waktu penyangraian, durasi selama 10 menit terbukti memberikan hasil paling optimal. Pada durasi ini, karakteristik fisik dan kimia produk menunjukkan profil yang paling stabil dan memuaskan. Hal ini penting untuk memastikan produk memiliki daya simpan yang baik serta kualitas sensoris yang konsisten bagi konsumen.
Secara teknis, analisis proksimat menunjukkan hasil yang cukup baik pada produk dengan waktu sangrai 10 menit. Produk ini mengandung kadar air sebesar 3,74% dan kadar abu 3,08%. Kandungan nutrisi lainnya mencakup lemak sebesar 7,83%, protein sebesar 7,90%, serta karbohidrat sebesar 77,80%. Data ini menunjukkan bahwa minuman ini memiliki profil gizi yang cukup padat untuk sebuah produk minuman fungsional.
Dari sisi pengujian sensoris, panelis memberikan respon yang sangat positif terhadap atribut organoleptik. Kopi rumput laut dengan waktu sangrai 10 menit unggul dalam hal flavor, keasaman (acidity), aftertaste, dan tekstur kekentalan. Total nilai atribut organoleptik sebesar 28,325 mengonfirmasi bahwa produk ini layak untuk dikembangkan secara komersial.
Keberhasilan formulasi ini membuka peluang baru bagi industri UMKM rumput laut di daerah untuk menciptakan produk bernilai tambah tinggi. Dengan memanfaatkan bahan lokal yang melimpah, pelaku usaha dapat menawarkan produk kopi yang tidak hanya nikmat, tetapi juga membawa nilai kesehatan tambahan.
Sebagai kesimpulan, inovasi ini membuktikan bahwa rumput laut dapat diintegrasikan secara efektif ke dalam produk minuman kekinian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan praktis bagi petani dan pelaku industri pengolahan rumput laut dalam upaya hilirisasi produk berbasis sumber daya lokal.