
Bandung — Pemilihan metode budidaya rumput laut ternyata sangat menentukan hasil panen dan keberlanjutan usaha pesisir. Temuan ini diungkap dalam artikel ilmiah karya Yuli Andriani dan Devina Khunti Nalibhrata dari Universitas Padjadjaran yang membandingkan dua sistem budidaya Kappaphycus alvarezii, yaitu metode longline dan rakit apung. Studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR) tahun 2026 ini menegaskan bahwa tidak ada satu metode yang selalu paling unggul, karena keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan kualitas bibit.
Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan komoditas laut strategis dengan nilai ekonomi tinggi, terutama karena kandungan karaginannya yang digunakan dalam industri makanan, kosmetik, hingga farmasi. Di Indonesia, komoditas ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi pesisir, khususnya di Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Bali. Data dalam artikel menunjukkan Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, dengan produksi yang terus meningkat hingga mencapai sekitar 11 juta ton pada 2016 dan menyumbang lebih dari 21 persen ekspor perikanan nasional pada 2023.
Dalam kajiannya, Yuli Andriani dan Devina Khunti Nalibhrata menggunakan metode systematic review dengan menganalisis berbagai artikel ilmiah yang diterbitkan antara 2017 hingga 2026. Mereka mengumpulkan data tentang pertumbuhan, biomassa, kualitas bibit, dan kondisi lingkungan untuk melihat perbandingan performa antara metode longline dan rakit apung dalam budidaya rumput laut.
Hasil analisis menunjukkan bahwa metode longline masih menjadi pilihan utama banyak petani karena lebih murah, sederhana, dan mudah diterapkan. Sistem ini menggunakan tali utama yang dipasang horizontal di permukaan laut dengan bibit yang diikat pada jarak tertentu. Dalam kondisi perairan yang tenang dan minim gangguan hama, longline mampu menghasilkan laju pertumbuhan harian yang tinggi, bahkan mencapai 8,4 persen per hari pada fase awal budidaya. Namun, sistem ini rentan terhadap serangan ikan herbivora dan kerusakan akibat gelombang kuat.
Di sisi lain, metode rakit apung menawarkan stabilitas lebih baik. Struktur bambu atau bahan sintetis yang mengapung membuat tanaman lebih terlindungi dari arus kuat dan gangguan fisik. Dalam beberapa studi yang dirangkum, sistem rakit apung menghasilkan biomassa lebih tinggi dan tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik dibandingkan longline. Salah satu contoh menunjukkan produksi mencapai 38,8 kilogram dalam 40 hari, jauh lebih tinggi dibanding longline yang hanya menghasilkan 22,5 kilogram pada kondisi awal yang sama.
Menurut Devina Khunti Nalibhrata dari Universitas Padjadjaran, faktor lingkungan menjadi penentu utama keberhasilan budidaya. Kedalaman ideal berada pada 20–50 sentimeter, suhu air optimal antara 27–30 derajat Celsius, salinitas 28–34 ppt, dan kecepatan arus 20–40 cm per detik. Di luar rentang itu, pertumbuhan rumput laut cenderung menurun drastis. Misalnya, suhu di atas 31 derajat Celsius terbukti menghambat metabolisme dan meningkatkan stres oksidatif tanaman.
Selain lingkungan, kualitas bibit juga menjadi faktor krusial. Bibit hasil kultur jaringan terbukti memiliki pertumbuhan lebih cepat dibanding bibit lokal biasa. Dalam salah satu studi, bibit kultur jaringan menghasilkan pertumbuhan absolut hingga 451 gram dalam 45 hari, jauh lebih tinggi dibanding bibit konvensional yang hanya mencapai 169 gram. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi bibit bisa menjadi solusi peningkatan produktivitas budidaya.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya strategi budidaya yang fleksibel. Di wilayah pesisir yang terlindung dan minim gelombang, metode longline tetap menjadi pilihan paling ekonomis. Namun, untuk daerah dengan arus kuat atau tekanan hama tinggi, rakit apung dengan jaring pelindung dinilai lebih aman dan produktif meski biaya awalnya lebih besar. Kombinasi metode yang tepat dengan bibit unggul dinilai menjadi kunci utama keberhasilan budidaya rumput laut di masa depan.
Temuan ini memberi dampak penting bagi petani rumput laut dan pembuat kebijakan. Dengan memahami karakter lingkungan dan memilih sistem budidaya yang sesuai, produktivitas dapat ditingkatkan sekaligus mengurangi risiko kerugian. Bagi Indonesia sebagai negara maritim, hasil riset ini dapat menjadi dasar untuk memperkuat sektor budidaya rumput laut yang berkelanjutan dan berdaya saing global.