
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Maluku Utara menyalurkan bantuan bibit rumput laut kepada nelayan pembudidaya di Pulau Taliabu.
Program tersebut menyasar kelompok pembudidaya di Desa Limbo dan Desa Lede pada 2026 melalui usulan pokok pikiran (Pokir) DPRD dari daerah pemilihan (Dapil) Taliabu.
Plt Kepala DKP Maluku Utara Kadri Laetje mengatakan, bantuan tersebut diberikan sebagai langkah mendorong pengembangan sektor budidaya rumput laut yang berkelanjutan di Pulau Taliabu.
Dikatakan, saat ini merupakan periode yang tepat untuk memulai musim tanam rumput laut di Pulau Taliabu. Musim tanam umumnya berlangsung pada Juni hingga November.
Menurutnya, pada periode musim selatan, pergerakan arus laut cenderung lebih tinggi sehingga membawa banyak nutrien dari laut lepas yang sangat mendukung pertumbuhan rumput laut.
"Pada musim ini arus laut membawa nutrien yang cukup banyak dari samudra sehingga sangat mendukung pertumbuhan rumput laut. Kondisi saat ini sangat tepat untuk musim tanam rumput laut di Taliabu, "jelasnya kepada Tribunternate.com, Kamis (2/7/2026).
Kadri berharap bantuan bibit tersebut dapat mendorong tumbuhnya usaha budidaya rumput laut yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan nelayan pembudidaya.
Ia mengungkapkan bantuan yang disalurkan tahun ini mencapai 10 ton bibit rumput laut kepada para nelayan dan petani pembudidaya.
Menurut perhitungan DKP, dalam waktu sekitar 40 hari setelah ditanam, bibit tersebut berpotensi berkembang menjadi sekitar 100 ton.
"Dari hasil itu, sebagian dapat dipanen dan sebagian lainnya ditanam kembali untuk memperluas produksi."
"Dengan pola budidaya yang berkelanjutan, dalam waktu sekitar tiga bulan produksi rumput laut diperkirakan dapat meningkat hingga mencapai sekitar 500 ton, "katanya.
Kadri menambahkan, apabila proses penanaman kembali terus dilakukan secara bertahap, produksi rumput laut di perairan budidaya Taliabu berpotensi meningkat hingga mencapai 1.000 ton.
Ia optimistis potensi budidaya rumput laut di Pulau Taliabu ke depan akan terus berkembang dan mampu memenuhi pasar di berbagai daerah seperti Luwuk dan Surabaya.
"Kami berharap produksi rumput laut di Taliabu dapat berkembang secara besar-besaran dan masuk ke berbagai pasar."
"Dengan siklus panen yang relatif singkat dan pasar yang terbuka luas, budidaya ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, "ujarnya.
Kadri menambahkan, Pulau Taliabu sebelumnya pernah mencatat produksi rumput laut kering hingga mencapai sekitar 1.600 ton per musim pada periode 2014-2019.